Tidak Semua Pekerjaan Cocok Diterapkan Remote Working, Ini Penjelasan Psikolog UK

  • 06 Jul 2026 11:02 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Sistem kerja remote working menawarkan fleksibilitas bagi pekerja, namun tidak semua bidang pekerjaan dapat menerapkannya. Selain itu, pola kerja ini juga memiliki tantangan, salah satunya jam kerja yang kerap terasa lebih panjang dibanding bekerja di kantor.

Psikolog Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Dr. Desak Nyoman Arista Retno Dewi, M.Psi., Psikolog, mengatakan penerapan remote working sangat bergantung pada karakteristik pekerjaan. Menurutnya, pekerjaan yang berkaitan langsung dengan produksi maupun pelayanan tatap muka akan sulit dilakukan secara jarak jauh.

"Jenis pekerjaan yang berhubungan dengan mesin produksi di perusahaan manufaktur tentu sangat sulit menerapkan remote working. Begitu juga pekerjaan yang menuntut pelayanan langsung kepada masyarakat, seperti dokter, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya yang harus bertemu langsung dengan pasien," ujarnya.

Sebaliknya, pekerjaan yang lebih banyak memanfaatkan teknologi digital dan komputer dinilai sangat memungkinkan untuk dikerjakan secara fleksibel dari berbagai lokasi.

"Bidang pekerjaan yang interaksinya lebih banyak menggunakan komputer, mengolah data, dan berbasis digital sangat memungkinkan dilakukan secara remote. Karena itu, pola kerja ini lebih banyak diterapkan di perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang digital," jelasnya.

Meski memberikan keleluasaan dalam bekerja, Desak mengingatkan adanya tantangan yang sering dirasakan pekerja, yakni jam kerja yang menjadi lebih panjang. Kondisi tersebut umumnya terjadi karena batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur ketika bekerja dari rumah.

Menurutnya, saat bekerja di kantor, jam kerja telah ditentukan secara jelas, misalnya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 atau 17.00. Namun saat bekerja dari rumah, banyak pekerja yang tanpa sadar menyelingi pekerjaan dengan aktivitas lain sehingga penyelesaian pekerjaan justru berlangsung hingga malam hari.

"Karena bekerja di rumah sering diselingi aktivitas lain, akhirnya pekerjaan ditunda lalu dilanjutkan lagi. Tanpa disadari, waktu kerja menjadi lebih panjang dari yang seharusnya. Ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penerapan remote working, terutama pada sistem work from home," katanya.

Oleh karena itu, Desak menilai disiplin dalam mengatur waktu dan menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi menjadi kunci agar sistem remote working tetap memberikan manfaat tanpa mengorbankan keseimbangan hidup pekerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....