Karya Sastra Terus Berkembang, Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi Masyarakat

  • 30 Jun 2026 09:03 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Ketika seseorang bilang mereka sedang stres, saran pertama yang muncul biasanya sama: tidur yang cukup, olahraga, kurangi kafein. Jarang ada yang menyebut: coba baca novel. Padahal ada alasan sederhana mengapa jutaan orang, terutama di tengah tekanan hidup yang semakin padat, memilih menutup hari mereka dengan sebuah buku. Bukan buku pengembangan diri, bukan buku bisnis, melainkan buku-buku fiksi. Lebih spesifik lagi, fiksi yang terasa hangat, yang karakternya tumbuh tanpa harus hancur lebih dulu, yang membiarkan kita menutup halaman terakhir dengan napas lebih lega. Jenis fiksi itu belakangan sering disebut healing fiction.

Kristophorus Divinanto Adi Yudono, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun dalam program Ngobrol Bareng Komunitas Pro1 RRI Madiun menyampaikan gagasannya. Healing fiction bukan istilah formal dalam dunia sastra akademis. Ini label populer yang tumbuh dari komunitas pembaca, terutama di Asia Timur dan Indonesia, untuk mendeskripsikan karya-karya yang punya efek menenangkan. "Dalam tradisi Jepang, konsep ini sudah lebih terstruktur lewat istilah iyashikei (癒し系), yang berarti "tipe penyembuh", "kata Kristo Senin, 29 Juni 2026. Karakteristik yang umumnya muncul adalah konflik yang diselesaikan tanpa traumatis, tokoh tumbuh secara emosional, nada naratif hangat meski tema yang diangkat berat, dan pembaca dibiarkan menutup buku dengan perasaan lebih tenang.

Perkembangan teknologi digital justru membuka peluang lebih luas bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berkarya. Berbagai platform digital kini memungkinkan penulis mempublikasikan karya mereka tanpa harus melalui jalur penerbitan konvensional, sehingga akses terhadap sastra menjadi semakin terbuka. "Perkembangan sastra selalu mengikuti perkembangan masyarakat. Jika dahulu karya sastra banyak diterbitkan dalam bentuk buku cetak, kini hadir dalam berbagai format digital yang lebih mudah diakses. Yang terpenting bukan hanya medianya, tetapi bagaimana sastra tetap mampu menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi ruang dialog bagi masyarakat," ujar Kristophorus.

Ia menambahkan bahwa sastra memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan sekadar karya estetis. Sastra mampu membangun empati, menumbuhkan daya kritis, sekaligus menjadi media refleksi terhadap berbagai fenomena sosial, budaya, pendidikan, maupun lingkungan. Menurut Kristophorus, membaca dan menulis sastra juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta memperkaya perspektif seseorang dalam memahami berbagai persoalan kehidupan. Oleh karena itu, budaya literasi perlu terus ditumbuhkan sejak dini agar masyarakat semakin akrab dengan karya sastra.

Kristo menambahkan, "Saya tidak akan mengklaim ini terbukti secara klinis. Tapi ada dua hal yang bisa diargumentasikan dengan jujur. Pertama, membaca menyita perhatian penuh dan itu berarti pikiran berhenti sejenak dari daftar masalahnya. Salah satu yang paling menguras dari stres bukan masalahnya sendiri, tapi pikiran yang terus berputar ke sana tanpa keluar. Kedua, kita belajar cara pandang dari karakter yang kita ikuti. Ketika tokoh melewati kehilangan atau kegagalan dengan cara yang terasa manusiawi bukan heroik dan ada sesuatu yang kita bawa pulang. Bukan nasihat, bukan formula, tapi cara melihat,"

Healing fiction menarik di titik ini karena kemenangan karakternya berskala manusiawi diantaranya berdamai dengan kenangan, belajar merasa cukup. Stres sehari-hari jarang datang dari krisis epik ia datang dari beban yang terlalu kecil untuk dikeluhkan tapi terlalu berat untuk diabaikan. "Fiksi yang memvalidasi pengalaman "biasa" itu terasa seperti seseorang akhirnya mengerti," pungkas Kristo

Dengan kata lain Healing fiction tidak akan menyembuhkan burnout parah, tidak akan menggantikan terapi, dan tidak akan membuat masalah pekerjaan besok menghilang. Tapi itulah tepatnya mengapa bukan "baca healing fiction dan hidupmu lebih baik," melainkan "bacaan yang tepat bisa menjadi salah satu bentuk istirahat yang paling terjangkau dan paling underrated." Di dunia yang terus mendorong produktivitas tanpa jeda, memilih membaca cerita yang hangat bukan tanda kelemahan. Itu pilihan untuk memberi dirimu ruang bernafas dan pengingat bahwa pemulihan, sekecil apapun, adalah sesuatu yang mungkin. Kadang itu cukup untuk memulai hari berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....