Sejarah di Balik Tempat-Tempat Mistis Madiun
- 20 Jun 2026 17:06 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Beberapa lokasi kerap dianggap memiliki aura mistis di Madiun dan sekitarnya.
Septian Dwita Kharisma, sejarawan dari Historia van Madioen (HVM), menyebut beberapa tempat tersebut sering muncul dalam cerita masyarakat. Di antaranya adalah Sendang Gayam di kawasan Kartoharjo, berbagai jembatan tua di Madiun, kawasan Bosbow, Monumen Kresek, kawasan Bakorwil Madiun, hingga bekas penjara tua di Jalan Ahmad Yani.
Menurutnya, sebagian besar cerita mistis yang berkembang di tempat-tempat tersebut tidak bisa dilepaskan dari peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Ia mencontohkan kisah tumbal jembatan yang banyak dikenal masyarakat Jawa. Cerita tersebut, jelas Septian, dapat dipahami sebagai refleksi keresahan masyarakat pribumi pada masa kolonial ketika dipaksa bekerja untuk kepentingan industri gula.
“Pabrik gula dan pembangunan infrastruktur pada masa kolonial memberi tekanan besar kepada masyarakat. Kisah tumbal bangunan bisa dibaca sebagai bentuk ekspresi keresahan masyarakat pada masa itu,” ujarnya saat siaran obrolan Jaga Malam PRO 2 RRI Madiun.
Karena itu, tidak mengherankan jika banyak pabrik gula tua di Jawa, termasuk di wilayah Madiun, identik dengan cerita horor. Selain faktor sejarah, kondisi fisik bangunan yang tua, besar, minim perawatan, dan jarang diakses masyarakat turut memperkuat kesan angker.
“Pabrik gula yang tidak terawat akan terlihat lebih menyeramkan dibandingkan bangunan serupa yang sudah direvitalisasi dan dijadikan objek wisata,” katanya.
Septian menilai keberadaan mitos dan cerita gaib dalam masyarakat Jawa memiliki fungsi sosial yang penting. Selain menjadi sarana menjaga situs sejarah dan lingkungan, mitos juga berperan sebagai rambu-rambu moral dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, berbagai larangan dan pantangan yang diwariskan secara turun-temurun sering kali mengandung pesan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai tersebut juga mengajarkan pentingnya menjaga etika serta tidak berlebihan dalam mengeksploitasi alam dan lingkungan.
“Gaib dalam budaya Jawa berfungsi menjaga aturan. Mitos menjadi wewanti atau pengingat agar manusia hidup seimbang dengan alam dan lingkungannya,” ujar Septian.
Ia menegaskan bahwa dalam kajian sejarah, setiap informasi tetap harus didasarkan pada bukti, arsip, dan sumber yang dapat diverifikasi. Namun cerita mistis tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari memori kolektif dan kebudayaan masyarakat.
“Jangan hanya berhenti pada katanya-katanya. Semua hal bisa dilihat dari sisi ilmu pengetahuan, sejarah, dan budaya yang melatarbelakanginya,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....