Memaknai Tawakal: Bukan Sekadar Pasrah tanpa Usaha

  • 14 Jun 2026 15:07 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dalam menjalankan hidup dengan segala macam aspeknya, sering kali kita sebagai hamba diminta untuk bertawakal. Namun, banyak dari kita dalam memaknai tawakal itu sendiri masih juga sebagian belum tepat, atau bahkan seseorang enggan untuk bertawakal, karena sejatinya tawakal tetap melakukan usaha namun tetap berpasrah kepada Allah SWT.

Ustaz Shofar, S.Pd.I., S.M., menjelaskan kepada RRI Madiun tentang konsep tawakal atau berserah diri itu dalam kajian Mutiara Pagi.

“Islam sebetulnya telah memberikan bimbingan yang sangat jelas. Merujuk pada Al-Qur'an Surah Ali Imran, Allah SWT berfirman bahwa perintah untuk bertawakal baru berlaku setelah seseorang membulatkan tekad dan melakukan upaya secara maksimal.

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

fa idzâ ‘azamta fa tawakkal ‘alallâh, innallâha yuḫibbul-mutawakkilîn

Artinya: Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Melalui ayat tersebut tentunya menjadi dasar hukum utama bahwa tawakal puncak penyerahan diri yang dilakukan secara sadar setelah seluruh ikhtiar kemanusiaan telah ditunaikan secara optimal. Lebih lanjut, Shofar juga menerangkan bahwa terdapat beberapa hikmah untuk dijadikan sebagai pelajaran.

Pertama, bahwa tawakal itu bukan berarti kita tidak berusaha atau bahkan bermalas-malasan, tapi tawakal itu adalah berusaha semaksimal mungkin lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Selain itu, para ulama menjelaskan, tawakal itu adalah amalannya hati, sementara mengoptimalkan sebab atau berusaha adalah tugas dari anggota tubuh.

Perpaduan inilah yang melahirkan konsep tawakal yang utuh dimana seseorang dituntut untuk memulai, menjalani, hingga mengakhiri suatu pekerjaan dengan sepenuh hati dan hanya bersandar penuh kepada Allah, termasuk apapun hasil akhirnya.

Lebih lanjut, hakikat makna tawakal digambarkan secara melalui analogi kehidupan seekor burung. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika manusia bertawakal dengan sebenar-benarnya, maka Allah akan memberikan rezeki sebagaimana dia memberi rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam kondisi perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang.

Kunci dari perumpamaan tersebut yakni terletak pada tindakan burung yang aktif keluar meninggalkan sarangnya untuk terbang mencari makan. Bukan diam pasif menunggu makanan datang menghampiri tempat tinggalnya.

Terakhir, Ustaz Shofar menekankan bahwa pada akhirnya sebagai seorang hamba perlu menyadari kelemahan. Selain itu juga selalu melafalkan La hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim, bahwa tidak ada kekuatan, kemampuan, bahkan upaya, melainkan itu atas pertolongan Allah SWT.

Oleh karena itu dengan kita berpasrah diri kepada Allah, berusaha dengan maksimal lalu rida terhadap apa yang Allah tentukan akan membuat tentram, nyaman dan nikmat hati terlebih dalam menjalani kehidupan ini. Selain juga tidak lupa untuk terus menjadi pribadi yang berusahan menjalankan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan larangan-Nya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....