Daging Kambing Picu Kolesterol dan Hipertensi? Ini Penjelasan Ahli Gizi
- 27 Mei 2026 09:47 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun — Anggapan bahwa daging kambing menjadi penyebab kolesterol dan hipertensi masih sering muncul pada momen Idul Adha. Padahal, dari kacamata gizi, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ahli gizi, Nikmahtul Fadilla menjelaskan daging kambing tidak secara langsung memicu kolesterol maupun hipertensi. Menurutnya, peningkatan kolesterol maupun tekanan darah lebih dipengaruhi oleh cara pengolahan serta bahan bumbu masakan yang digunakan.
"Sebenarnya tidak benar kalau daging kambing menyebabkan kolesterol dan hipertensi. Yang menyebabkan itu biasanya pengolahannya—seperti dibuat rendang, gulai, atau sate yang penuh santan, lemak, dan kecap. Itu yang menyebabkan bisa naik kolesterol atau hipertensi," ujarnya, Selasa 26 Mei 2026.
Nikmah menjelaskan kandungan energi dan lemak daging kambing relatif lebih rendah dibanding daging sapi. Dalam 100 gram daging kambing terkandung energi 149 kilokalori, protein 16,6 gram, dan lemak 9,2 gram. Sementara itu, 100 gram daging sapi mengandung energi sekitar 190 kilokalori, protein 19,1 gram, dan lemak 12 gram.
"Jadi kalau dibandingkan dengan daging sapi, daging kambing lebih rendah, baik itu energi, protein, lemaknya," tambahnya.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau tidak mengonsumsi daging merah secara berlebihan saat Idul Adha. Konsumsi berlebih tanpa diimbangi asupan serat dan aktivitas fisik tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Untuk pola konsumsi yang lebih sehat, Nikmah menyarankan masyarakat memilih bagian daging yang rendah lemak serta mengolahnya dengan cara lebih ringan, seperti sop bening, semur, atau sate dengan bumbu secukupnya. Konsumsi daging juga sebaiknya diimbangi dengan sayuran seperti tomat, ketimun, selada, dan labu air untuk membantu menjaga keseimbangan gizi.
"Ingat terapkan mindful eating saat mengkonsumsi daging merah," tambahnya.
Nikmah juga menekankan pentingnya memahami faktor risiko kolesterol dan hipertensi secara lebih menyeluruh. Ia menyebut, pola makan tinggi makanan instan, minuman manis, serta rendahnya aktivitas fisik turut berperan dalam meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....