Makna Sesaji Ruwatan, Simbol Keharmonisan dan Filosofi Kehidupan Masyarakat Jawa

  • 26 Mei 2026 01:14 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Tradisi ruwatan dalam budaya Jawa tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sesaji yang sarat makna filosofi. Berbagai jenis sajian yang disiapkan bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan simbol doa, harapan, dan pengingat akan pentingnya keharmonisan hidup. Hal tersebut mengemuka dalam dialog “Ngobras” (Ngobrol Bareng Komunitas) Pro 1 Radio Republik Indonesia Madiun yang menghadirkan narasumber Ki Purwinarto dan Suwondo.

Dalam dialog tersebut, Ki Purwinarto menjelaskan bahwa sesaji ruwatan merupakan simbol kehidupan manusia yang penuh harapan akan keselamatan dan keseimbangan. Salah satu sesaji utama dalam ruwatan adalah buceng lengkap dengan lauk-pauknya.

Menurutnya, buceng terbagi menjadi dua bentuk, yakni buceng brok atau bundar dan buceng lancip. Kedua bentuk itu memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat Jawa.

“Buceng brok yang berbentuk bundar melambangkan bumi sebagai tempat manusia hidup dan berpijak. Sedangkan buceng lancip menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya, beberapa waktu lalu di studio RRI Madiun.

Ia menambahkan, lauk-pauk yang melengkapi buceng juga mengandung pesan kehidupan. Kehadiran berbagai jenis makanan mencerminkan keberagaman masyarakat yang tetap harus hidup rukun dan saling menghormati.

“Maknanya adalah persatuan dan kerukunan. Meski berbeda-beda, semuanya menjadi satu kesatuan yang harmonis,” katanya.

Selain buceng, sesaji ruwatan juga dilengkapi pisang raja yang melambangkan harapan akan kemuliaan, kewibawaan, dan kehidupan yang baik. Sementara kelapa dimaknai sebagai simbol keteguhan hati dan manfaat hidup bagi sesama, karena seluruh bagian pohon kelapa dapat digunakan untuk kebutuhan manusia.

Ki Purwinarto menegaskan, setiap unsur sesaji sesungguhnya merupakan media pengingat agar manusia selalu bersyukur dan menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

“Sesaji bukan untuk hal mistis semata, tetapi sarana doa dan simbol agar manusia selalu eling lan waspada,” jelasnya.

Sementara itu, Suwondo mengatakan masyarakat perlu memahami tradisi ruwatan dari sisi budaya dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, tradisi tersebut diwariskan leluhur sebagai bentuk pendidikan moral dan spiritual.

“Ruwatan mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,” ungkapnya.

Ia juga menilai keberadaan sesaji dalam ruwatan menjadi bagian penting dari identitas budaya Jawa yang harus dijaga kelestariannya. Di tengah perkembangan zaman, generasi muda diharapkan tidak hanya melihat tradisi tersebut sebagai ritual semata, tetapi memahami pesan moral yang terkandung di balik simbol-simbol sesaji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....