Dinkes Magetan Ungkap dua Kondisi Berisiko bagi Ibu Hamil

  • 19 Mei 2026 21:41 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Meningkatnya jumlah ibu hamil dengan risiko tinggi dalam beberapa tahun terakhir membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan memperkuat upaya pencegahan komplikasi kehamilan melalui edukasi langsung kepada masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar workshop kesehatan ibu hamil di Indoor Baru Trangkil, Desa Temboro, Selasa (19/5/2026).

Wilayah Temboro dipilih karena menjadi salah satu desa dengan jumlah ibu hamil terbanyak di Magetan. Selain itu, tren kehamilan berisiko tinggi di kawasan tersebut terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, sehingga pemerintah menilai perlu dilakukan intervensi melalui edukasi yang lebih intensif.

Kepala Dinas Kesehatan Magetan, Rokhmat Hidayat, menyebut dua kondisi medis yang paling sering memicu komplikasi serius pada ibu hamil di daerah itu adalah hipertensi dan pendarahan pascapersalinan. Kedua faktor tersebut dinilai menjadi penyebab utama risiko kematian ibu apabila tidak terdeteksi lebih awal.

“Hipertensi pada ibu hamil cukup banyak kami temui dan dapat memicu kejang. Selain itu pendarahan setelah persalinan juga menjadi ancaman serius yang harus diantisipasi sejak awal,” kata Rokhmat.

Menurutnya, pencegahan tidak hanya dilakukan saat ibu memasuki masa persalinan, tetapi harus dimulai sejak sebelum kehamilan, selama masa kandungan, hingga pascamelahirkan. Salah satu langkah sederhana yang terus disosialisasikan adalah kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah.

Dinkes juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga melalui gerakan SIJAMIL. Melalui program ini, suami dan anggota keluarga didorong aktif memantau kondisi ibu hamil agar tanda bahaya dapat segera dikenali.

Data Dinkes menunjukkan pada 2025 terdapat sembilan kasus kematian ibu di Magetan. Sebagian besar kasus justru terjadi pada masa nifas atau hingga 42 hari setelah persalinan, bukan saat proses melahirkan. Kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya pemahaman keluarga terhadap tanda bahaya pascapersalinan.

“Banyak keluarga belum memahami tanda bahaya pada masa nifas. Padahal sebagian besar kasus kematian ibu tahun lalu justru terjadi setelah persalinan,” ujarnya.

Hingga Mei 2026, angka kematian ibu di Magetan tercatat nihil. Kondisi ini menjadi dasar pemerintah daerah untuk terus mengintensifkan edukasi kesehatan, dengan harapan target nol kematian ibu hingga akhir tahun dapat dipertahankan sekaligus mendukung pencegahan stunting sejak masa kehamilan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....