Kebohongan yang Diperbolehkan dalam Islam, Apa Saja?
- 30 Apr 2026 22:19 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Dalam ajaran Islam, kejujuran adalah pilar utama dalam membentuk akhlak mulia, membangun kepercayaan hingga tercipta hubungan yang baik. Namun, ternyata ada kondisi tertentu, dimana dalam ajaran Islam diperbolehkan seseorang berbohong.
Hal tersebut dijelaskan oleh Ustaz Shofar, S.Pd.I., S.M., dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Madiun. “Bohong yang diperbolehkan itu ada dalam sebuah riwayat terdapat tiga perkara,” ucapnya.
1. Pertama untuk Menyelamatkan Nyawa Seseorang
Kebohongan pertama yang diperbolehkan adalah demi melindungi nyawa seseorang dari ancaman bahaya atau tindakan kekerasan. Ustaz Sofar memberikan contoh situasi di mana seseorang mencari kerabat kita dengan niat atau tujuan mencelakai dan atau melukai.
"Misalnya ada orang mencari teman kita dengan tujuan ingin melukai atau membahayakan, maka kita wajib berbohong dengan mengatakan teman kita tidak ada. Termasuk juga dalam situasi peperangan, berbohong diperbolehkan demi keselamatan," jelas Ustaz Sofar.
2. Mendamaikan Pihak yang Bertikai (Ishlah)
Kebohongan kedua berkaitan dengan upaya mendamaikan dua pihak yang berseteru atau ishlah. Jika ada dua orang, sahabat, atau saudara yang sedang bermusuhan, diperbolehkan menyampaikan narasi positif yang mungkin tidak sepenuhnya terjadi demi mencairkan suasana.
"Kita datang kepada pihak A dan berkata bahwa pihak B sebenarnya ingin bertemu dan mengajak makan bersama untuk berdamai. Begitu juga sebaliknya, nah kebohongan ini diperbolehkan demi menghadirkan kembali kebaikan di antara orang yang sedang tidak harmoni,” jelas Shofar.
3. Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
Poin ketiga yang cukup menarik adalah kebohongan antara suami dan istri. Namun, Ustaz Sofar memberikan catatan penting bahwa bohong yang dimaksud bukanlah untuk menutupi kesalahan fatal seperti perselingkuhan, melainkan untuk menyenangkan hati pasangan.
"Bukan bohong yang menutupi kesalahan, tapi untuk menentramkan hati,” tegas Shofar kepada RRI Madiun. Ia memberikan contoh ketika suami memuji masakan istri sangat enak padahal keasinan, atau memuji istrinya tampak cantik sekali hari ini. Bohong yang demikian diperbolehkan demi kebahagiaan rumah tangga," tuturnya.
Melalui pemaparan tersebut, Ustaz Sofar menekankan bahwa pengecualian terkait bohong hanya berlaku untuk tujuan kemaslahatan yang lebih besar, bukan untuk merugikan orang lain atau mencari keuntungan pribadi yang batil. Beliau mengajak setiap umat Islam untuk tetap menjadikan kejujuran sebagai prinsip utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....