Sebanya 171 SD di Magetan Rusak, Dikpora Perbaiki Bertahap dan Skala Prioritas

  • 16 Apr 2026 07:46 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Magetan mencatat sedikitnya 171 bangunan Sekolah Dasar (SD) di wilayahnya mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai ringan hingga berat. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam memastikan keselamatan serta kelayakan fasilitas pendidikan.

Kepala Dikpora Magetan, Suhardi, menegaskan bahwa proses perbaikan tidak dapat dilakukan secara serentak karena keterbatasan anggaran. Oleh sebab itu, pemerintah menerapkan pola penanganan bertahap dengan sistem prioritas.

“Tidak semua bisa langsung diperbaiki sekaligus karena keterbatasan anggaran. Kami lakukan bertahap dengan skala prioritas,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, fokus utama diarahkan pada bangunan yang mengalami kerusakan sedang hingga berat karena dinilai berpotensi membahayakan aktivitas belajar siswa. Sementara itu, untuk kerusakan ringan, pihak sekolah diminta melakukan perawatan secara mandiri.

“Yang rusak berat dan sedang menjadi prioritas utama karena menyangkut keselamatan. Untuk yang ringan, sekolah bisa melakukan pemeliharaan sendiri,” jelasnya.

Dari total 171 bangunan yang terdata, Dikpora telah mengerucutkan 25 unit SD sebagai prioritas utama perbaikan, serta 15 bangunan tingkat SMP yang juga masuk daftar penanganan mendesak. Pendanaan perbaikan bersumber dari APBD Kabupaten Magetan serta APBN, termasuk dukungan program rehabilitasi dari pemerintah pusat.

“Pendanaan berasal dari APBD dan APBN, termasuk bantuan dari pemerintah pusat melalui program rehabilitasi sekolah,” tambah Suhardi.

Sebelumnya, kondisi kerusakan ini kembali menjadi sorotan setelah insiden robohnya gudang SD Negeri 2 Bendo, Kecamatan Bendo, saat hujan deras beberapa waktu lalu. Bangunan tersebut ambruk akibat kondisi material yang sudah tua dan lapuk.

Peristiwa tersebut disebut menjadi salah satu gambaran nyata kondisi bangunan sekolah yang sudah lama tidak tersentuh perbaikan secara menyeluruh, bahkan sebagian sejak era 1970-an.

“Banyak bangunan yang kondisinya sudah tua dan belum pernah direnovasi secara besar-besaran sejak puluhan tahun lalu, sehingga rawan mengalami kerusakan,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....