BMKG: Potensi Kegempaan di Jawa Timur Masih Tinggi

  • 19 Apr 2026 22:36 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Malang - Potensi terjadinya gempa bumi di wilayah Provinsi Jawa Timur masih tergolong tinggi, seiring dengan kondisi tektonik Indonesia yang secara umum aktif. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, dalam konferensi pers yang digelar di RRI Malang, Minggu (19/4/2026).

Ricko menjelaskan bahwa berdasarkan sebaran aktivitas seismisitas dalam kurun waktu 2022 hingga 2025, seluruh wilayah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan terhadap gempa bumi, tidak terkecuali Jawa Timur. “Kalau melihat dari sebaran seismisitas, dari tahun 2022 sampai 2025, seluruh wilayah di Indonesia, bukan hanya Jawa Timur saja, itu rawan terhadap gempa bumi,” ujarnya.

Secara khusus, Jawa Timur memiliki dua sumber utama kegempaan. Sumber pertama berasal dari bagian selatan wilayah tersebut, yakni zona subduksi yang terbentuk akibat pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Zona ini dikenal sebagai megathrust, yang memiliki potensi memicu gempa bumi besar.

“Jawa Timur ini secara umum ada dua sumber kegempaan utama. Yang pertama dari bagian selatan, yaitu dari subduksi tadi, pertemuan Indo-Australia dan Eurasia yang kemudian disebut sebagai megathrust dan area subduksi, Dan kemudian yang di daratan tadi ada 82 patahan aktif yang berada di darat gitu ya. Kalau kita lihat sepanjang tahun 2022 sampai 2025 pernah terjadi gempa-gempa bumi di sekitar wilayah Pulau Bawean seperti itu dan ada di sekitar Situbondo, Jawa Timur.” jelas Ricko.

Selain zona subduksi, sumber kegempaan lainnya berasal dari sesar-sesar aktif yang tersebar di daratan Jawa Timur. Sesar ini dapat memicu gempa dangkal yang meskipun skalanya lebih kecil, namun berpotensi menimbulkan dampak signifikan karena kedalamannya yang relatif dekat dengan permukaan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik, serta terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana gempa bumi. Edukasi terkait mitigasi bencana, seperti memahami jalur evakuasi dan cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi, dinilai penting untuk meminimalisir risiko korban.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....