saat Hidup Banyak Refleksi : Memahami Midlife Crisis
- 14 Apr 2026 23:22 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun – Istilah midlife crisis sering digunakan untuk menggambarkan fase kehidupan ketika seseorang mulai mempertanyakan pilihan hidupnya, merasa tidak puas dengan kondisi saat ini, atau mengalami kegelisahan tentang masa depan.
Fase ini biasanya muncul pada usia sekitar 35–50 tahun, ketika seseorang berada di tengah perjalanan hidupnya, tidak lagi berada di awal kehidupan dewasa, tetapi juga belum memasuki usia lanjut. Namun, sejatinya manusia mengalami beberapa kali krisis dalam hidup mereka.
“Krisis pertama kita berada pada fase dari anak-anak menuju remaja, dimana saat itu banyak sekali komplain. Fase kedua disebut dengan quarter life crisis 20- 30 tahun biasanya mulai muculnya pertanyaan dan kekhawatirantentang karir dan pilihan hidup. Fase krisis ketiga 35 – 50 tahunan midlife krisis, ditandai dengan munculnya pertanyaan dalam diri tentang benarkah ini pilihan hidupku atau hanya mengikuti arus saja” dikatakan Robik Anwar Dani, M.Psi. Psikolog
Fenomena midlife crisis atau krisis paruh baya dinilai sebagai bagian alami dalam perjalanan hidup manusia. Menurutnya, fase ini umumnya terjadi ketika seseorang memasuki usia dewasa pertengahan, sekitar 35 hingga 50 tahun, di mana individu mulai melakukan refleksi mendalam terhadap pencapaian hidup, tujuan, serta makna keberadaan diri.
“Midlife crisis wajar dan pasti dialami oleh setiap orang,” ujar Robik.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan proses psikologis yang normal dalam perkembangan manusia.
Krisis ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti perasaan tidak puas terhadap karier, mempertanyakan hubungan sosial, hingga munculnya kecemasan akan masa depan. Namun, Robik menekankan bahwa respons setiap individu bisa berbeda-beda, tergantung pada pengalaman hidup dan dukungan sosial yang dimiliki.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar masyarakat tidak memandang midlife crisis sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, fase ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk evaluasi diri dan perencanaan hidup yang lebih baik ke depan.“Dengan pemahaman yang tepat, seseorang justru bisa tumbuh lebih matang secara emosional dan menemukan kembali arah hidupnya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, serta tidak ragu untuk mencari bantuan profesional apabila krisis yang dialami mulai mengganggu kesehatan mental.Fenomena midlife crisis kini semakin banyak dibahas, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....