Dukungan Psikososial Anak Korban Bencana Perlu Metode Terstruktur

  • 12 Apr 2026 14:14 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dukungan psikososial bagi anak korban bencana membutuhkan pendekatan yang terencana dan terstruktur. Hal ini disampaikan oleh Aria Kusuma Aji, relawan penanggulangan bencana sekaligus perawat RSUD dr Soedono Madiun dalam dialog Spada Pro 2 RRI Madiun pada 8 April 2026. Menurutnya, metode yang digunakan tidak bisa dilakukan secara spontan tanpa persiapan. Setiap langkah harus disesuaikan dengan kondisi anak di lapangan.

Aria menjelaskan bahwa tahapan awal dimulai dari riset sederhana. Riset ini bertujuan untuk memahami kebutuhan dan karakteristik anak-anak yang terdampak. Dengan pemahaman tersebut, relawan dapat menentukan pendekatan yang tepat. Hal ini penting agar intervensi yang diberikan dapat diterima dengan baik.

“Topik kita harus sesuai dengan mereka. Jadi tidak bisa asal memilih materi, harus ada riset sedikit-sedikit supaya kita tahu kebutuhan mereka seperti apa,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kesesuaian topik akan mempermudah anak dalam memahami pesan yang disampaikan. Tanpa hal itu, kegiatan psikososial berpotensi tidak efektif.

Selain topik, penggunaan bahasa juga menjadi perhatian utama. Relawan harus menyesuaikan bahasa dengan latar belakang daerah tempat bertugas. Perbedaan bahasa dapat menjadi hambatan komunikasi yang serius. Kondisi ini dapat menyebabkan anak sulit berinteraksi dan memahami kegiatan.

“Bahasa juga harus disesuaikan. Jangan sampai kita dari Jawa bertugas di Aceh lalu menggunakan bahasa Jawa, mereka tidak akan paham dan akhirnya komunikasi bisa terhambat atau bahkan terblokir,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya adaptasi agar pesan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak.

Aria juga menyoroti pentingnya kesiapan peralatan dalam kegiatan psikososial. Media seperti boneka tangan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam metode rekreasional. Namun, penggunaannya tidak bisa langsung diterapkan tanpa pertimbangan. Semua harus disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan anak.

Selain itu, pengondisian situasi juga menjadi faktor penentu. Relawan harus melihat apakah anak-anak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan seperti dongeng atau pertunjukan. Jika tidak, metode lain perlu dipertimbangkan sebagai alternatif. Dukungan psikososial tidak hanya terbatas pada boneka atau dongeng, tetapi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sesuai kebutuhan di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....