Mengenal Brain Rot dan Penyimpangan Berbahasa di Medsos
- 08 Apr 2026 17:43 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun - Fenomena brain rot semakin menjadi sorotan di tengah maraknya penggunaan media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Istilah ini kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi menurunnya kualitas berpikir akibat konsumsi konten yang dangkal, repetitif, dan kurang menantang secara intelektual.
Menurut Wenny Wijayanti, M.Pd., dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Kota Madiun, istilah brain rot sebenarnya bukanlah konsep baru yang lahir di era digital. Ia menjelaskan bahwa gagasan serupa telah lama dibahas oleh para ilmuwan dalam berbagai kajian literatur.
“Kalau kita berbicara istilah brain rot, ini sebenarnya tidak lahir di era digital saat ini. Ada beberapa ilmuwan yang sudah pernah melahirkan buku yang terkait dengan kecenderungan masyarakat yang lebih suka dengan gagasan yang dangkal dan kurang menantang, atau istilahnya zona nyaman yang sesuatu yang dianggap dapat melemahkan pikiran manusia,” ujarnya saat menjadi narasumber acara ngobrol bareng komunitas (ngobras) – PRO 1 RRI Madiun Senin, 6 April 2026.
Lebih lanjut, Wenny menilai bahwa perkembangan media sosial saat ini mempercepat dan memperluas dampak fenomena tersebut. Algoritma platform digital cenderung menyajikan konten yang mudah dicerna, menghibur, dan cepat viral, namun sering kali minim nilai edukatif. Akibatnya, pengguna menjadi terbiasa dengan pola konsumsi informasi yang instan dan kurang kritis.
Selain berdampak pada pola pikir, brain rot juga berpengaruh terhadap cara berbahasa di ruang digital. Munculnya istilah-istilah baru, singkatan berlebihan, hingga penggunaan bahasa yang tidak sesuai kaidah menjadi bagian dari penyimpangan berbahasa yang kian lumrah.
“Bahasa di media sosial kini cenderung tidak lagi memperhatikan struktur yang baik dan benar. Ini tentu menjadi tantangan bagi dunia pendidikan, karena bahasa adalah cerminan cara berpikir seseorang,” tambahnya.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan menurunnya kemampuan literasi, khususnya dalam hal berpikir kritis dan berkomunikasi secara efektif. Oleh karena itu, Wenny menekankan pentingnya peran pendidikan dalam membangun kesadaran literasi digital yang sehat.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih selektif dalam mengonsumsi konten serta membiasakan diri dengan bacaan atau informasi yang lebih berkualitas dan menantang secara intelektual. Dengan demikian, di tengah arus deras informasi digital, kemampuan menjaga kualitas berpikir dan berbahasa menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam fenomena brain rot yang berpotensi melemahkan daya intelektual dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....