Self Healing Religi Atasi Burnout dan Overthinking Digital
- 19 Mar 2026 23:29 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Fenomena kelelahan mental (burnout) dan overthinking semakin menjadi realitas yang banyak dialami masyarakat, khususnya generasi muda di era digital.
Hal tersebut disoroti Ketua Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kota Madiun, Eha Cholida Azzahra, S.Sos, dalam siaran obrolan Tauladan PRO 2 RRI Madiun. Dalam perbincangan tersebut, terungkap bahwa derasnya arus informasi dan tekanan sosial di media digital turut memperburuk kondisi psikologis individu.
Dari sudut pandang psikologis-sosial, percepatan informasi melalui media sosial menciptakan ruang perbandingan sosial yang tidak sehat. Individu cenderung melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, sehingga memicu perasaan tidak cukup, iri, hingga kecenderungan overthinking.
“Kita melihat hidup orang lain indah, padahal belum tentu seperti itu,” jelas Eha, menyoroti ilusi realitas yang kerap terbentuk di ruang digital.
Lebih jauh, fenomena ini tidak hanya berdampak pada emosi sesaat, tetapi juga membentuk pola pikir jangka panjang. Ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya, muncul tekanan internal yang berujung pada kelelahan mental. Dalam konteks sosial, kondisi ini diperparah oleh budaya validasi, di mana individu merasa perlu mendapatkan respons atau pengakuan dari orang lain untuk merasa “cukup”.
Namun, Eha menilai bahwa kebiasaan mencari pelampiasan melalui aktivitas eksternal, seperti jalan-jalan, nongkrong, atau sekadar “healing” secara fisik yang sering kali hanya memberikan efek sementara. Secara psikologis, aktivitas tersebut tidak menyentuh akar permasalahan, yaitu kondisi batin atau jiwa yang sedang lelah. Bahkan, tidak jarang setelah aktivitas tersebut selesai, individu kembali menghadapi masalah yang sama, bahkan dengan beban tambahan.
“Jadi, sebenarnya self healing terbaik adalah kembali ke pemilik jiwa kita, Jadi, sudah benar ya healingnya ke mana. Tapi tempatnya atau tujuannya ini yang perlu di apa ya? Relokasi. Sesuatu yang menyembuhkan, meneduhkan bukan sesuatu yang akhirnya bikin masalah lain atau kepusingan yang lain”, jelas Eha.
Eha juga menyoroti fenomena curhat sebagai mekanisme coping yang umum dilakukan. Secara sosial, berbagi cerita memang dapat membantu, tetapi tidak selalu efektif. Respons yang tidak sesuai harapan, risiko disalahpahami, hingga potensi konflik baru justru dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk dukungan sosial memberikan dampak positif.
Sebagai alternatif, Eha menawarkan pendekatan yang lebih reflektif dan spiritual, yaitu membangun hubungan emosional dengan Tuhan. Dalam perspektif psikologis, praktik seperti doa, refleksi diri, dan ibadah dapat menjadi sarana regulasi emosi yang lebih stabil. Aktivitas ini memungkinkan individu untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi, sekaligus membangun ketenangan dari dalam diri.
“Self healing itu ke mananya itu enggak mahal justru, tapi he ke sujud. Kita curhat-curhat aja. Sebenarnya yang pertama kali kita harus curhati itu sama Allah”, tegas Eha.
Ia menekankan bahwa proses ini memang tidak instan dan membutuhkan usaha (effort). Dalam praktiknya, seseorang perlu menciptakan suasana yang mendukung, seperti meluangkan waktu khusus, misalnya di sepertiga malam untuk berdoa dan merenung. Pendekatan ini secara tidak langsung melatih kesadaran diri (self-awareness) dan penerimaan diri, yang merupakan aspek penting dalam kesehatan mental.
Menariknya, dari sudut pandang sosial, pendekatan ini juga menjadi bentuk resistensi terhadap budaya instan di era digital. Ketika masyarakat terbiasa mencari solusi cepat, pendekatan spiritual justru mengajak individu untuk menjalani proses yang lebih mendalam dan berkelanjutan.
Selain itu, Eha juga menekankan pentingnya memahami bahwa emosi seperti lelah, kecewa, dan sedih adalah bagian dari sifat manusiawi. Alih-alih menolak atau menekan emosi tersebut, individu diajak untuk mengelolanya dengan cara yang lebih sehat. Dalam hal ini, spiritualitas menjadi salah satu instrumen yang dapat membantu individu menemukan makna dan ketenangan.
“Kapan kita terakhir salat yang lama, menikmati salat atau doa yang lama itu kapan terakhir atau belum pernah mungkin itu. Bisa kita coba, bisa kita mulai untuk percaya sama Allah karena memang self feeling terbaik adalah kembali ke pemilik jiwa mungkin itu”, tandas Eha.
Secara keseluruhan, fenomena burnout dan overthinking di era digital tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang semakin kompetitif dan terhubung secara virtual. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup hanya bersifat eksternal, tetapi juga perlu menyentuh dimensi internal individu.
Pendekatan yang menggabungkan kesadaran psikologis dan nilai-nilai spiritual dinilai mampu menjadi alternatif dalam menghadapi tekanan mental modern. Seperti yang disampaikan dalam diskusi tersebut, self-healing terbaik bukan sekadar mencari pelarian, tetapi kembali pada sumber ketenangan yang lebih hakiki, yakni membangun kedekatan dengan Tuhan sebagai pemilik jiwa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....