Self Healing Islami Menenangkan Jiwa dengan Kembali Allah
- 19 Mar 2026 23:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun — Di tengah maraknya tren self healing yang identik dengan liburan atau aktivitas hiburan, perspektif Islam menawarkan pendekatan yang lebih mendalam: kembali kepada Sang Pencipta sebagai pemilik jiwa.
Hal ini disampaikan oleh Eha Cholida Azzahra dalam program siaran “Tauladan Tanya Ustaz” di bulan Ramadan.
Dalam perbincangan tersebut, Eha menjelaskan bahwa rasa lelah, gelisah, hingga overthinking merupakan hal yang sangat manusiawi. Ia mengutip bahwa manusia memang diciptakan dengan sifat mudah mengeluh, sehingga perasaan lelah secara mental bukanlah sesuatu yang perlu disangkal.
“Self healing itu bukan sekadar jalan-jalan atau mencari suasana baru. Itu hanya menyentuh fisik, sementara yang kita butuhkan adalah penyembuhan jiwa,” ujarnya.
Menurut Eha, konsep healing yang populer saat ini sering kali dimaknai sebagai “pergi ke suatu tempat”. Padahal, dalam Islam, healing sejati adalah kembali kepada Allah melalui ibadah.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an menyebutkan sumber penyembuh (syifa) adalah firman Allah itu sendiri.
“Kalau hati yang lelah, maka obatnya bukan tempat, tapi kembali kepada pemilik hati,” jelasnya.
Meski demikian, ia tidak melarang aktivitas seperti rekreasi atau menikmati alam. Namun, hal tersebut perlu diiringi dengan perubahan niat dan sudut pandang, misalnya untuk bersyukur dan mentadabburi ciptaan Allah, bukan sekadar pelarian dari masalah.
Eha juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang lebih memilih curhat kepada sesama manusia. Padahal, menurutnya, tempat terbaik untuk mengadu adalah Allah.
“Kalau curhat ke manusia, bisa saja masalah kita tersebar atau bahkan bertambah. Tapi kalau kepada Allah, pasti aman dan didengar,” katanya.
Ia mengakui bahwa tidak semua orang langsung merasakan ketenangan saat berdoa. Namun, hal itu merupakan proses yang perlu dilatih, salah satunya dengan membangun suasana ibadah yang nyaman dan khusyuk.
Salah satu metode self healing Islami yang dianjurkan adalah bangun di sepertiga malam untuk berdoa. Dalam suasana tenang, seseorang dapat mencurahkan isi hati secara lebih mendalam.
“Ciptakan suasana yang nyaman, nikmati salatnya, dan berdoa dengan bahasa yang kita pahami. Tidak harus selalu formal,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tangisan dalam doa bukanlah kelemahan, melainkan tanda bahwa hati masih hidup dan terhubung dengan Allah.
Menjawab pertanyaan tentang kondisi perempuan yang tidak dapat salat saat haid, Eha menegaskan bahwa doa dan zikir tetap bisa dilakukan.
“Yang tidak boleh hanya salat dan puasa. Tapi doa tetap bisa, bahkan itu sudah cukup untuk menjadi jalan healing,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi emosional saat haid memang lebih rentan, sehingga perlu diimbangi dengan memperbanyak doa dan menjaga hati.
Dalam pembahasan lain, Eha menyinggung fenomena mudahnya seseorang merasa lelah secara mental akibat pengaruh media sosial dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Ia menyarankan untuk mengurangi paparan media sosial jika sudah memicu perasaan negatif, serta mengubah rasa iri menjadi motivasi.
Sementara itu, bagi yang sulit memaafkan diri sendiri atas kesalahan masa lalu, ia menyarankan kombinasi antara doa dan mencari bantuan profesional jika diperlukan.
“Kalau sakit fisik kita ke dokter, maka sakit jiwa juga perlu ahli. Tapi tetap, ujungnya kembali kepada Allah,” ujarnya.
Eha mengajak untuk melakukan refleksi diri atau muhasabah, terutama terkait hubungan dengan Allah. Ia menegaskan bahwa self healing terbaik dalam Islam bukanlah sesuatu yang mahal, melainkan proses mendekatkan diri kepada Allah secara konsisten.
“Coba ingat, kapan terakhir kita benar-benar khusyuk dalam salat, atau curhat lama kepada Allah? Dari situ kita bisa mulai. Self healing terbaik adalah kembali kepada pemilik jiwa,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....