Ragam Kosakata “Batal Puasa"
- 16 Mar 2026 22:25 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Puasa merupakan salah satu praktik keagamaan yang sangat penting bagi umat Islam, terutama pada bulan Ramadan.
Dalam praktik sehari-hari, puasa tidak hanya menjadi aktivitas spiritual, tetapi juga memunculkan berbagai fenomena sosial dan budaya dalam masyarakat.
Salah satu fenomena menarik adalah munculnya beragam kosakata yang digunakan untuk menyebut tindakan membatalkan puasa secara diam-diam sebelum waktu berbuka.
Keberagaman kosakata ini menunjukkan kekayaan bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa daerah serta
kreativitas masyarakat dalam menamai suatu perilaku.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata puasa diartikan sebagai menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun dalam praktik sosial, tidak sedikit orang yang terkadang tidak kuat menjalankan puasa hingga waktu berbuka.
Fenomena tersebut melahirkan berbagai istilah lokal yang secara humoris maupun satiris menggambarkan tindakan membatalkan puasa secara sembunyi-sembunyi
“Salah satu godaan besar dalam berpuasa itu adalah lapar dan haus. Dan tidak sedikit umat muslim yang secara sembunyi-sembunyi membatalkan puasa sebelum waktu berbuka. Dan ternyata istilah-istilah batal puasa itu banyak. Dan jarang diketahui oleh kebanyakan orang. Seperti kalau ini baru saya temukan di kota Madiun kata mokel. Dan sudah ada di KBBI”. Dikatakan Kristophorus Divinanto Adi Yudono, M.Pd. selaku Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKWMS Kampus Kota Madiun saat menjadi narasumber acara Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) di Pro 1 RRI Madiun. Senin 16 Maret 2026.
Kata mokel sendiri dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah Malang. Mokel merujuk pada tindakan makan atau minum sebelum waktu berbuka puasa secara diam-diam agar tidak diketahui orang lain. Istilah ini biasanya digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan nada bercanda atau menyindir.
Istilah serupa juga terdapat dalam bahasa Jawa Tengah, yaitu mokah. Maknanya hampir sama dengan mokel, yakni tindakan membatalkan puasa sebelum waktunya secara sembunyisembunyi. Penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa fenomena sosial yang sama dapat menghasilkan variasi kosakata di daerah yang berbeda.
Dalam bahasa Sunda dikenal istilah godin. Kata ini digunakan untuk menyebut seseorang yang makan atau minum secara sembunyi-sembunyi untuk membatalkan puasa. Istilah ini sering dipakai secara humoris dalam percakapan santai. Kata Godin sendiri sudah terdapat dalam KBBI.
Fungsi dari keberagaman kata-kata mokel,mokah, godim, budim, tempus, berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cermin budaya dan pengalaman sosial masyarakat. Masing-masing istilah lahir dari konteks lokal tertentu, namun memiliki makna yang relatif sama, yaitu menggambarkan tindakan membatalkan puasa secara sembunyi-sembuny.
“Kata-kata tersebut akan berpotensi hilang jika tidak pernah dan jarang diucapkan. Bukan berarti mengajarkan untuk mokel dan sebagainya. Ini tidak berhenti sebatas sebagai pengetahuan, tetapi bentuk dari pelestarian bahasa.” Tambah Adi
Dengan demikian, ragam kosakata tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia
berkembang melalui interaksi dengan bahasa daerah serta kreativitas masyarakat dalam menamai pengalaman sehari-hari. Keberadaan istilah-istilah ini bukan hanya memperkaya leksikon bahasa Indonesia, tetapi juga memperlihatkan dinamika budaya masyarakat dalam memaknai praktik keagamaan seperti puasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....