Psikologi Cinta: Tak Berbalas, Mengapa Menyakitkan?
- 02 Mar 2026 11:22 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Cinta tak berbalas adalah fenomena emosi manusiawi yang seringkali membawa dampak psikologis yang mendalam, mulai dari kekecewaan, rendah diri, hingga tindakan ekstrem jika dikuasai oleh dorongan marah atau keputusasaan. Dalam program PUG & Inklusi di Pro1 RRI Madiun, Yonathan Setyawan, S.PSi. mengatakan ketika rasa kehilangan kasih sayang bergeser menjadi dorongan untuk merebut, melukai diri sendiri atau orang lain dapat muncul sebagai respons maladaptif. "Beragam studi dan literatur menunjukkan bahwa ketidakmampuan mengelola kekecewaan cinta dapat meningkatkan resiko munculnya perilaku kekerasan dalam konteks hubungan dekat maupun lingkungan sekitar," kata Yonathan, Senin 2 Maret 2026.
Yonathan menerangkan, mengapa cinta tak berbalas rasanya begitu menyakitkan. "Jadi cinta tak berbalas itu menjadi sumber distress intens. Sehingga berpotensi membuat si pelaku depresi, cemas, dan berpikir bahaya seperti ide bunuh diri dan sejenisnya," terang Yonathan. Resiko kekerasan dalam hubungan romantis sering terkait dengan motif-motif seperti ketertarikan seksual, serta hisapan kepemilikan, dan kekuatan narasi bahwa pasangan milik seseorang.
Banyak kasus pembunuhan pasangan, tambah Yonathan, dimana motif-motifnya muncul sebagai bagian dari konstruksi kendali dan pelestarian kepemilikan atas pasangan yang selanjutnya memicu tindakan kekerasan ekstrem jika ancaman dirasakan nyata. Selain itu, narasi remaja dan dewasa muda menunjukkan bagaimana pemahaman romantis, norma budaya, dan keyakinan romantis bisa meningkatkan resiko kekerasan dalam konteks hubungan yang tidak seimbang atau tidak sehat.
Di sisi lain, sebagai sosok remaja, Zefanya Rosi, seorang mahasiswa mengatakan, banyak cara mengatasi rasa sakit karena cinta tak berbalas. " Misalnya melatih emosi ketika muncul, identifikasi dulu pemicunya apa, dan mulai berbicara pada diri sendiri, apakah tindakan yang kita lakukan merugikan orang lain atau justru berdampak merugi bagi diri sendiri," kata Rosi, sapaan akrabnya.
Sementara itu, Nadia Putri M, yang juga seorang mahasiswi mengungkapkan hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa sulit move on karena perasaan negatif adalah dengan kegiatan positif, seperti menulis, berolahraga atau menyalurkannya dalam hobi. "Biasanya kan kita punya hobi, nah, kita bisa menyalurkan rasa kecewa kita, untuk menghalau rasa sakit itu dengan kegiatan yang kita suka. Misalnya juga olahraga, dan sebagainya. Atau bisa juga bertemu dengan teman untuk berbagi cerita," ungkap Nadia.
Yonathan kembali menyerukan pada remaja untuk melakukan introspeksi, dengan melakukan self refreshment. "Dukungan keluarga juga penting, jadi tidak ada salahnya jika bercerita pada orangtua ketika sedang menghadapi masalah percintaan. Nah sebagai orangtua, dianjurkan berbagi pengalaman, mendengar, ikut berbagi pengalaman yang terdahulu dengan catatan tetap mengambil hal positifnya," Yonathan menyerukan.
Cinta tak berbalas dapat menjadi sumber distress emosional yang ekstrem. Dalam beberapa kasus, distress ini berinteraksi dengan motif kepemilikan, cemburu, dan kendali sehingga meningkatkan resiko tindakan kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap pasangan atau mantan pasangan. Namun, faktor-faktor pelindung dan konteks budaya sangat menentukan hasilnya. Intervensi yang fokus pada coping sehat, dukungan sosial, dan pemahaman cinta yang sehat sangat penting untuk mencegah ekskalasi kekerasan dalam hubungan romantis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....