Ramadhan sebagai Momentum Hijrah dan Perbaikan Diri
- 02 Mar 2026 05:24 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Bulan suci Ramadhan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadhan diyakini sebagai momentum hijrah dan perbaikan diri secara menyeluruh baik secara makaniyah (perpindahan tempat dan lingkungan), nafsiyah (perubahan jiwa), maupun pembenahan akhlak dan amal.
Dra. Muftiati Solikhah, M.Pd., dalam program Mutiara Pagi menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan “madrasah ruhaniyah” yang Allah hadirkan setiap tahun untuk menguatkan kembali orientasi hidup seorang muslim.
“Ramadhan adalah kesempatan emas untuk berhijrah. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari lalai menjadi taat,” jelasnya, Senin 2 Maret 2026. Landasan utama Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri terdapat dalam firman Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Menurut Muftiati Solikhah, ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa yaitu kesadaran penuh kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Takwa inilah inti dari hijrah dan transformasi diri.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
| Baca juga: Wasiat Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan |
Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan membuka peluang besar untuk memulai lembaran baru kehidupan. Hijrah makaniyah secara bahasa berarti perpindahan tempat. Namun dalam konteks Ramadhan, maknanya lebih luas.
Muftiati Solikhah menjelaskan bahwa hijrah makaniyah bisa diwujudkan dengan:
- Berpindah dari lingkungan yang tidak kondusif menuju lingkungan yang lebih religius.
- Mengganti tempat-tempat maksiat dengan majelis ilmu dan masjid.
- Mengisi waktu yang biasa digunakan untuk hal sia-sia dengan aktivitas ibadah.
Sementara itu, Hijrah nafsiyah adalah perubahan dari dalam jiwa perpindahan dari sifat buruk menuju akhlak mulia. Puasa melatih pengendalian diri: menahan amarah, menjaga lisan, dan mengontrol hawa nafsu. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Muftiati Solikhah menambahkan bahwa konsistensi setelah Ramadhan menjadi indikator keberhasilan hijrah. “Jika setelah Ramadhan seseorang tetap menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan menjauhi maksiat, berarti Ramadhan berhasil membentuk karakter barunya," tambahnya. Dra. Muftiati Solikhah, M.Pd., menutup dengan pesan, “Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa perubahan. Jadikan ia titik balik kehidupan dari biasa menjadi luar biasa dalam ketaatan," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....