Menghidupkan Dzikir dan Fikir sebagai Pilar Peradaban

  • 01 Mar 2026 05:04 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dzikir dan fikir menjadi dua amalan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Keduanya tidak bisa dipisahkan, sebab dzikir menguatkan hati, sementara fikir (berpikir dan merenung) menajamkan akal.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Amir Abdullah dalam program Sahur Barokah. Menurut Ustaz Amir Abdullah, dzikir bukan sekadar melafalkan tasbih, tahmid, dan tahlil, melainkan menghadirkan kesadaran penuh kepada Allah dalam setiap aktivitas.

“Dzikir itu mengingat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan. Sedangkan fikir adalah merenungkan ciptaan Allah agar keimanan semakin kokoh. Jika keduanya berjalan bersama, maka lahirlah pribadi yang kuat secara ruhani dan cerdas secara pemikiran,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa perintah untuk berdzikir dan berfikir telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam Surah Al-Ahzab ayat 41–42: “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

”Selain itu, Allah juga memuji orang-orang yang memadukan dzikir dan fikir sebagaimana dalam Surah Ali Imran ayat 190–191:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…”

“Dalam ayat ini jelas, orang beriman tidak hanya berdzikir, tetapi juga berpikir. Mereka merenungi ciptaan Allah sebagai tanda kebesaran-Nya,” terang Ustaz Amir.

Ustaz Amir menambahkan, dzikir memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun psikologis. Di antaranya, menentramkan hati sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Kemudian, menghapus dosa dan meninggikan derajat.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW menyebut dzikir sebagai amalan terbaik dan paling suci di sisi Allah. Mendekatkan diri kepada Allah: dalam hadis qudsi riwayat Imam Bukhari, Allah berfirman bahwa Dia bersama hamba-Nya ketika hamba tersebut mengingat-Nya.

Menguatkan mental dan menghindarkan dari kecemasan, dengan dzikir membantu seseorang lebih sabar, optimis, dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi ujian hidup. “Orang yang terbiasa berdzikir akan memiliki kontrol emosi yang baik, karena hatinya selalu terhubung kepada Allah,” tambahnya.

Ustaz Amir menjelaskan bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu. Beberapa momentum utama berdzikir antara lain:

  • Setelah shalat lima waktu
    Membaca tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali sebagaimana dianjurkan Rasulullah ﷺ.
  • Pagi dan petang hari
    Membaca dzikir pagi dan petang sebagai perlindungan diri.
  • Sebelum dan sesudah melakukan aktivitas
    Seperti sebelum makan, sebelum tidur, keluar rumah, atau memulai pekerjaan.
  • Saat menghadapi kesulitan
    Membaca istighfar dan kalimat hasbunallahu wa ni’mal wakil untuk memohon pertolongan Allah.
  • Dalam kondisi apa pun
    Berdasarkan Surah Ali Imran ayat 191, dzikir bisa dilakukan sambil berdiri, duduk, maupun berbaring.

“Islam itu indah, karena dzikir bisa dilakukan kapan saja. Bahkan bekerja pun bisa bernilai dzikir jika diniatkan karena Allah,” tegasnya.

Selain dzikir, Ustaz Amir mengingatkan pentingnya fikir atau tafakur. Menurutnya, banyak orang rajin berdzikir namun kurang merenungi maknanya. Padahal, tafakur dapat meningkatkan kualitas iman. Ia mencontohkan, ketika melihat alam semesta, pergantian siang dan malam, atau perjalanan hidup manusia, semua itu seharusnya menjadi bahan renungan tentang kekuasaan Allah.

“Fikir membuat dzikir tidak kosong. Kita tidak hanya mengucap, tetapi memahami dan merasakan,” jelasnya.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Ustaz Amir Abdullah mengajak umat Islam untuk tidak melupakan dua kekuatan utama ini. Kesibukan dunia jangan sampai membuat hati lalai dan akal tumpul dari nilai-nilai ilahiah.

“Dzikir menjaga hati tetap hidup, fikir menjaga akal tetap tajam. Jika keduanya bersatu, maka lahirlah pribadi Muslim yang bijak, tenang, dan produktif,” pungkasnya. Melalui dzikir dan fikir, seorang Muslim tidak hanya mengejar keberhasilan dunia, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Sebab hati yang terhubung kepada Allah dan akal yang digunakan untuk merenung adalah kunci ketenangan hidup yang hakiki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....