Proses Panjang di Balik Warna Lembut Batik Alami

  • 11 Feb 2026 13:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Di balik warna lembut yang tampak sederhana, batik warna alami menyimpan proses produksi yang tidak singkat. Lilik Widiawati, owner WMH Batik, menjelaskan bahwa perbedaan utama dengan pewarna sintetis terletak pada tahap pencelupan.

“Kalau warna sintetis hanya satu kali celup, setelah itu difiksasi selesai,” jelasnya.

Namun pada warna alam, proses pencelupan harus dilakukan berulang. Setiap pencelupan akan memperkuat intensitas warna. 

“Kalau warna alam minimal lima kali, bisa 10 kali, bahkan 15 kali, tergantung selera dan pesanan konsumen. Kalau lebih dari lima kali, warnanya akan lebih pekat,” ujarnya.

Lilik menekankan bahwa bahan pewarna alami harus mengandung tanin tinggi. Sumber warna alami pun beragam, misalnya secang, mengkudu, kulit manggis, daun jati, kayu tinggi, bahkan mangrove. Sebagai contoh, limbah sepet kelapa pun dapat dimanfaatkan dengan cara merebusnya dari 6 atau 8 liter sampai menyusut jadi 2 liter. Sepet kelapa tersebut direbus sekitar 3–4 jam sampai taninnya benar-benar mengental

“Yang dipakai itu kulit atau daun yang mengandung tanin tinggi supaya warnanya bisa keluar maksimal,” katanya.

Batik dengan warna alam juga memerlukan perawatan khusus. Kain tidak boleh dijemur langsung di bawah sinar matahari dan tidak dianjurkan dicuci menggunakan mesin cuci. Pencucian sebaiknya dilakukan secara lembut menggunakan tangan dan sabun khusus atau bahkan sampo.

“Kalau terlalu sering dicuci bukan cepat luntur, tapi cepat kusam,” tambahnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....