Awal Mula Peringatan Malam Nishfu Sya’ban

  • 01 Feb 2026 14:54 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Umat muslim di Indonesia akan memperingati dan menghidupkan malam nishfu sya’ban tahun 2026 tepat di hari Senin, 2 Februari. Nishfu sya’ban sendiri  adalah pertengan bulan sya’ban dalam kalender hijriyah  atau bulan ruwah penyebutan dalam beberapa suku di Indonesia terutama suku Jawa. Itu artinya nishfu sya’ban adalah malam tanggal 15 dibulan sya’ban kalender hijriyah. Malam nishfu sya’ban merupakan malam yang penuh keberkahan, hal tersebut karena pada malam itu diyakini di angkatnya catatan amal perbuatan seorang hamba. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam An nasa’i dan Imam Ahmad

Mengingat pentingnya malam nishfu sya’ban, maka pada malam tersebut umat muslim dihampir seluruh penjuru dunia memperingatinya dengan mengadakan berbagai acara dan ritual ibadah seperti berdoa bersama dengan membaca surah Yasin 3 kali, qiyamul lail atau sholat malam, tadarus alquran berjamaah, berdoa bersama dan sebagainya. Hal ini dikandung maksud agar catatan amal perbuatan yang baik diterima oleh Allah dan amal buruk diampuni serta ditetapkan takdir yang baik selama setahun kedepan. Peringatan ini juga diyakini umat muslim bukan sebuah kewajiban namun sebagai sebuah anjuran

Dilansir dari NU Online,  Al-Imam Al-Qasthalani (wafat 923 H) menjelaskan awal mula adanya peringatan malam Nisfu Sya'ban dalam kitabnya Al-Mawahib Al-Laduniyah yang artinya sebagai berikut:

“Tabi'in tanah Syam seperti Khalid bin Ma'dan dan Makhul, mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam Nisfu Sya'ban. Nah dari mereka inilah orang-orang kemudian ikut mengagungkan malam Nisfu Sya'ban. Dikatakan, bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat (kabar atau cerita yang bersumber dari ahli kitab, Yahudi dan Nasrani yang telah masuk Islam) tentang hal tersebut. Kemudian ketika perayaan malam Nisfu Sya'ban viral, orang-orang berbeda pandangan menanggangapinya. Sebagian menerima, dan sebagian lain mengingkarinya. Mereka yang memgingkari adalah mayoritas ulama Hijaz, termasuk dari mereka Atha' dan Ibnu Abi Malikah. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari kalangan fuqaha' Madinah menukil pendapat bahwa perayanan malam Nisfu Sya'ban seluruhnya adalah bid'ah. Ini juga merupakan pendapat Ashab Maliki dan ulama selainnya”

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang mula-mula memulai peringatan malam Nisfu Sya'ban adalah segolongan ulama Tabi'in daerah Syam. Dalam arti, peringatan malam Nisfu Sya'ban belum ada pada zaman Rasulullah dan Sahabat, baru ada pada zaman Tabi'in. Peringatan malam Nisfu Sya'ban yang kini diamalkan itu dasarnya adalah mengikuti perbuatan segolongan ulama Tabi'in negeri Syam atau kini dikenal dengan negara Suriah. 

Kesimpulannya bahwa ibadah pada malam Nisfu Sya'ban sudah sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Oleh karena itu, perbedaan pendapat terkait hal ini dapat disikapi dengan toleransi. Menghormati mereka yang menjalankan ibadah Nisfu Sya'ban lebih baik daripada mengecam, karena tindakan tersebut tidak hanya bisa merusak kerukunan antar umat beragama, namun juga mengganggu kekhusyukan ibadah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....