Mengapa Balita Memiliki Kebiasaan Unik?

  • 27 Jan 2026 10:43 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID,Madiun - Balita sering kali menunjukkan berbagai kebiasaan unik yang bagi orang dewasa tampak aneh, bahkan terkadang menimbulkan kekhawatiran. Kebiasaan tersebut dapat berupa mengisap jempol, memutar rambut, membawa bantal atau guling ke mana pun, hingga membawa benda tertentu yang berpotensi membahayakan jika tidak diawasi. Meskipun demikian, sebagian besar kebiasaan ini merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak dan tidak selalu menandakan adanya gangguan.

Menurut para ahli perkembangan anak, kebiasaan unik pada balita memiliki peran penting dalam membantu anak memahami lingkungan sekitarnya, mengelola emosi, serta mengembangkan kemampuan motorik dan kognitif. Susanto (2025) dalam Implementasi Sensory Play untuk Koordinasi Motorik yang dipublikasikan pada Jurnal Anak Usia Dini menjelaskan bahwa aktivitas sensorik berperan besar dalam mendukung perkembangan motorik anak usia dini. Selain itu, perilaku berulang pada balita juga dipahami sebagai cara alami anak untuk menenangkan diri dan menciptakan rasa aman ketika menghadapi situasi baru atau menegangkan.

1. Proses Menenangkan Diri (Self-Soothing)

Balita belum memiliki kemampuan pengendalian emosi yang matang seperti orang dewasa. Oleh karena itu, kebiasaan seperti mengisap jempol atau memeluk benda tertentu sering digunakan anak sebagai cara untuk menenangkan diri ketika merasa lelah, cemas, atau tidak nyaman. Mekanisme self-soothing ini penting karena membantu anak belajar mengatur emosinya sejak dini.

2. Eksplorasi Sensorik dan Motorik

Balita belajar melalui pengalaman langsung yang melibatkan pancaindra dan gerakan tubuh. Aktivitas seperti menyentuh, meraba, memasukkan benda ke dalam mulut, atau memainkan ludah merupakan bagian dari proses eksplorasi sensorik. Melalui pengalaman tersebut, anak mengenali tekstur, rasa, serta melatih koordinasi motorik. Anak usia dini diketahui belajar paling efektif melalui aktivitas sensorik dan motorik yang berulang.

3. Mengatasi Rasa Bosan

Ketika balita merasa bosan atau kurang mendapatkan stimulasi, mereka cenderung menciptakan aktivitas sendiri. Kebiasaan unik yang muncul menjadi sarana hiburan sekaligus latihan kreativitas. Perilaku sederhana yang dilakukan secara berulang sering kali muncul sebagai upaya anak untuk mengisi waktu dan merangsang kemampuan berpikirnya.

4. Perkembangan Otak dan Bahasa

Kebiasaan seperti mengoceh, mengulang suara, atau memainkan lidah dan mulut memiliki kaitan erat dengan perkembangan otak dan kemampuan bahasa. Aktivitas tersebut membantu memperkuat koneksi saraf yang berperan dalam proses berbicara dan berpikir. Setiap gerakan kecil dan pengulangan suara yang dilakukan balita berkontribusi pada pembentukan jaringan otak yang mendukung perkembangan kognitif.

5. Refleks Alami

Sebagian kebiasaan balita berasal dari refleks alami sejak lahir, seperti refleks mengisap. Seiring bertambahnya usia, refleks ini dapat berkembang menjadi kebiasaan yang memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak. Refleks alami yang masih bertahan pada usia balita umumnya berfungsi sebagai sumber ketenangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....