Filosofi Jawa Baju: Sorjan, Beskap, Hingga Bedong
- 26 Jan 2026 10:46 WIB
- Madiun
RRI. CO. ID, Madiun- Budaya Jawa tak hanya hadir dalam tutur kata dan tata krama, tetapi juga terwujud kuat melalui busana adatnya. Dalam tradisi Jawa Mataraman, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol nilai hidup, etika, serta laku spiritual manusia Jawa. Dua busana yang hingga kini tetap lestari dan sarat filosofi adalah sorjan dan beskap.
Ki Purwinarto, budayawan Jawa, menjelaskan bahwa sorjan merupakan busana khas Jawa Mataraman yang identik dengan kesederhanaan dan pengendalian diri. Sorjan biasanya dikenakan oleh kaum pria, khususnya dalam aktivitas adat maupun keseharian masyarakat Jawa tempo dulu. Ciri khas sorjan terletak pada kancingnya yang berjumlah ganjil, umumnya enam atau delapan, yang melambangkan rukun iman dan rukun Islam sebagai pengingat hubungan manusia dengan Tuhan.
“Sorjan mengajarkan kesadaran spiritual. Busana ini menuntun pemakainya agar selalu eling lan waspada, ingat kepada Sang Pencipta dan berhati-hati dalam bersikap,” tutur Ki Purwinarto dalam program Ngobras Pro1 RRI Madiun beberapa waktu lalu. Menurutnya, motif lurik pada sorjan juga memiliki makna garis kehidupan, bahwa hidup manusia dipenuhi proses, perjuangan, dan keteraturan.
Sementara itu, beskap dikenal sebagai busana resmi pria Jawa yang mencerminkan kewibawaan, ketegasan, serta tanggung jawab. Cornelius Joko, pemerhati budaya Jawa, menyampaikan bahwa beskap bukan sekadar pakaian kebesaran, tetapi simbol kematangan jiwa seorang lelaki Jawa. Potongan beskap yang tegas dan tertutup melambangkan sikap menjaga diri, tutur kata, dan perbuatan.
“Beskap mengajarkan laki-laki Jawa agar mampu menata batin, bertindak bijaksana, serta bertanggung jawab atas peran sosialnya,” ujar Cornelius Joko. Kancing beskap yang tertutup rapat juga dimaknai sebagai simbol pengendalian hawa nafsu dan kemampuan menyimpan rahasia demi keharmonisan hidup.
Lebih jauh, filosofi busana Jawa Mataraman juga berkaitan dengan simbol-simbol lain dalam budaya Jawa, seperti gurita dan bedong bayi. Gurita dalam filosofi Jawa dimaknai sebagai perlindungan dan keteguhan. Seperti lengan gurita yang melingkar kuat, manusia diharapkan mampu melindungi diri dan keluarganya dari pengaruh buruk, sekaligus memiliki daya juang dan keuletan dalam menghadapi kehidupan.
Sementara bedong bayi memiliki makna mendalam tentang pembentukan karakter sejak dini. Ki Purwinarto menjelaskan bahwa membedong bayi bukan sekadar praktik tradisional, melainkan simbol penataan hidup. “Bedong mengajarkan keteraturan, ketenangan, dan keseimbangan. Sejak lahir, manusia Jawa diajarkan untuk hidup tertib dan selaras,” jelasnya.
Cornelius Joko menambahkan bahwa keterkaitan antara sorjan, beskap, gurita, dan bedong bayi menunjukkan kesinambungan filosofi hidup orang Jawa dari lahir hingga dewasa. Semua simbol tersebut menekankan nilai pengendalian diri, tanggung jawab, serta keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Pemaknaan busana dan simbol budaya tersebut, filosofi Jawa Mataraman mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang penampilan luar, tetapi tentang kedalaman sikap, keluhuran budi, dan kesadaran spiritual. Warisan budaya ini menjadi pengingat penting agar generasi masa kini tetap menjaga identitas dan nilai-nilai luhur Jawa di tengah arus modernisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....