Hujan dan Banjir: Waspada Leptospirosis

  • 26 Jan 2026 09:37 WIB
  •  Madiun

RRI. CO. ID, Madiun- Musim hujan yang disertai curah hujan tinggi kerap memicu genangan air hingga banjir di sejumlah wilayah. Di balik kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mewaspadai berbagai penyakit yang berpotensi muncul, salah satunya leptospirosis. Penyakit ini sering luput dari perhatian, padahal risikonya meningkat signifikan saat lingkungan tergenang air banjir.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSP Aria Wirawan Salatiga, dr. Peni Erlinawati, M.Sc., Sp.PD, menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini umumnya dibawa oleh hewan, terutama tikus, dan dikeluarkan melalui urin. Saat musim hujan dan banjir, bakteri tersebut mudah mencemari air, lumpur, maupun tanah yang kemudian berisiko masuk ke tubuh manusia.

“Penularan leptospirosis terjadi ketika kulit yang terluka atau selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut kontak langsung dengan air atau lumpur yang terkontaminasi urin hewan terinfeksi,” jelas dr. Peni, Senin 26 Januari 2026.

Menurutnya, masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan tergenang air, seperti petani, petugas kebersihan, relawan banjir, maupun warga yang rumahnya terdampak banjir, memiliki risiko lebih tinggi tertular leptospirosis.

Dr. Peni mengungkapkan, gejala leptospirosis pada awalnya sering menyerupai penyakit ringan, sehingga kerap diabaikan. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis dan punggung, mata merah, mual, muntah, hingga diare. Pada kondisi yang lebih berat, leptospirosis dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal, hati, paru-paru, bahkan berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

“Yang berbahaya, gejala awalnya mirip flu atau demam biasa. Jika ada riwayat kontak dengan air banjir lalu muncul demam, sebaiknya segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya saat menjadi narasumber Live Instagram Kemenkes RI.

Lebih lanjut, dr. Peni menekankan pentingnya deteksi dan penanganan dini. Pengobatan leptospirosis akan lebih efektif bila dilakukan pada fase awal penyakit. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan angka kesakitan akibat penyakit ini.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Peni memberikan beberapa imbauan kepada masyarakat. Di antaranya adalah menghindari kontak langsung dengan air banjir bila tidak mendesak, menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boots dan sarung tangan saat beraktivitas di area tergenang, serta segera membersihkan diri dengan sabun setelah kontak dengan air banjir.

Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus juga sangat penting. “Tikus adalah reservoir utama leptospira. Lingkungan yang bersih dan bebas sampah dapat mengurangi risiko berkembangnya tikus,” tambahnya.

Di akhir, dr. Peni Erlinawati mengajak masyarakat untuk tidak menyepelekan dampak kesehatan pascabanjir. “Hujan dan banjir bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman penyakit. Dengan kewaspadaan dan perilaku hidup bersih dan sehat, leptospirosis dapat dicegah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....