Pentingnya Deteksi Dini untuk Kenali Ciri Asperger Syndrome
- 20 Okt 2025 10:24 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Melakukan deteksi dini terhadap tumbuh kembang anak menjadi langkah penting agar hambatan dapat diketahui sejak awal. Salah satu kondisi yang dapat terdeteksi melalui proses ini adalah Asperger Syndrome, gangguan perkembangan yang kini masuk dalam kategori autism spectrum disorder (ASD).
Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, Arif Budhi Santoso, menjelaskan Asperger Syndrome masuk dalam kategori autism karena adanya ciri yang mirip, terutama pada sisi kemampuan bahasa dan interaksi sosial yang kurang.
"Jadi intinya adalah bahwa Asperger itu ada tapi sekarang dimasukkan ke dalam golongan autisme spektrum disorder. Yang yang membedakan dengan kasus yang lain adalah bahwa bicaranya mungkin masih bisa ada terjalin tapi untuk interaksinya sama dengan anak dengan autisme spektrum disorder," jelasnya, Minggu (19/10/2025).
Arif menambahkan, individu dengan kondisi Asperger Syndrome umumnya masih dapat memahami instruksi sederhana dan bahkan memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi, namun tetap mengalami hambatan dalam interaksi sosial.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa jika kondisi ini tidak ditangani, individu dengan kondisi Asperger Syndrom berpotensi mengalami kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun memiliki kecerdasan yang tinggi. Oleh karena itu, terapi psikososial sejak dini menjadi langkah penting agar anak mampu menjalin relasi dan beradaptasi dengan orang lain.
"Kalau tidak ditangani, yang paling sulit adalah kemampuan dia untuk bersosialisasi dengan orang lain. Sedangkan fitrah manusia adalah makhluk sosial. Meskipun dia nanti bisa memiliki keahlian tertentu, tapi kalau sosialisasinya tidak bagus, bagaimana dia bisa menunjukkan apa yang dia bisa kepada orang lain,” tuturnya.
Ciri awal sindrom Asperger pada anak umumnya ditandai dengan keterlambatan bicara pada usia sekitar dua tahun. Anak juga cenderung kurang mau bersosialisasi dengan teman sebaya, sulit beradaptasi jika rutinitasnya berubah, serta belum memahami norma-norma sosial di sekitarnya.
“Biasanya mulai tampak pada usia tiga hingga empat tahun,” jelas Arif.
Ia pun mengimbau para orang tua untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak sejak dini agar hambatan atau gangguan yang muncul dapat segera terdeteksi dan memperoleh intervensi yang tepat. (UF)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....