Alasan Dasi Siswa SD Berbeda Bentuk

  • 24 Jun 2025 14:50 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Penggunaan dasi anak sekolah tidak terlepas dari pengaruh Negara Belanda saat menjajah Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, sistem sekolah formal mulai diperkenalkan di Hindia Belanda terutama untuk anak anak elite.

Penggunaan dasi berawal dari budaya Eropa khususnya Prancis dan Inggris pada abad ke 17, awalnya digunakan oleh tentara kroasia lalu menjadi symbol status, formalitas dan profesionalisme di dunia barat.

Setelah kemerdekaan, Indonesia mengadopsi model pendidikan modern yang meniru banyak aspek pendidikan Barat, termasuk seragam dan atribut seperti dasi.

Dasi mulai dipakai dalam seragam SMP dan SMA sebagai symbol kedisiplinan dan formalitas, lalu diperluas ke tingkat SD. Sejak orde baru tahun 1970an hingga sekarang, sekolah sekolah mulai mewajibkan seragam legkap termasuk dasi sebagai bagian dari upaya membangun karakter anak sejak usia dini, membangun semangat disiplin dan nasionalisme ditekankan dalam sistem pendidikan.

Hal ini juga tertuang melalui Permendikbud Nomor 50 Tahun 2022, SD wajib mengenakan seragam putih-merah dan saat upacara lengkap dengan topi pet dan dasi warna merah hati.

Bentuk dasi sekolah yang diberlakukan di Indonesia juga berbeda, dasi laki laki memiliki bentuk runcing tengah pada bagian bawahnya, dan dasi perempuan rata di bagian bawahnya.

Pada dasi yang dikenakan anak SD, perbedaan dasi antara siswa laki-laki dan perempuan di sekolah dasar biasanya tidak memiliki alasan yang mutlak secara akademis, tetapi lebih didasarkan pada standar budaya, estetika, dan kebijakan sekolah.

Berikut beberapa alasan umum mengapa dasi SD laki-laki dan perempuan berbeda:

1. Perbedaan Desain Seragam Berdasarkan Gender. Banyak sekolah masih mengikuti pendekatan konvensional bahwa seragam untuk laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan sebagai bagian dari identitas gender mereka.

Dasi laki-laki biasanya berbentuk panjang dan formal, menyerupai dasi kerja. Dasi perempuan sering kali berbentuk pita, dasi kupu-kupu, atau dasi pendek, dianggap lebih "feminin" secara visual.

2. Kemudahan dan Kenyamanan. Dasi perempuan dibuat lebih sederhana dan mudah dipakai karena sering diprioritaskan kenyamanan dan kemudahan mengenakan.

Anak-anak SD masih kecil, jadi desain dasi juga mempertimbangkan kepraktisan saat dipakai sendiri tanpa bantuan orang lain.

3. Estetika dan Kerapian. Pihak sekolah ingin mempertahankan kesan rapi, seragam, dan menarik secara visual.

Perbedaan ini juga membantu guru atau petugas sekolah membedakan siswa laki-laki dan perempuan dari jauh.

4. Tradisi atau Aturan Sekolah. Beberapa sekolah mengikuti aturan atau tradisi seragam yang sudah lama berlaku. Kadang perbedaan itu juga menyesuaikan dengan kebijakan yayasan atau lembaga pendidikan tertentu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....