Di Balik Pencapaian, Overachiever Rentan Alami Dampak Negatif
- 03 Jun 2025 09:39 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Overachiever sering kali menjadi sorotan dan panutan karena pencapaian yang luar biasa dan produktivitas yang mengagumkan. Mereka dikenal memiliki energi besar, ambisi tinggi, serta dorongan kuat untuk terus menghasilkan performa terbaik dalam berbagai bidang. Namun, di balik semua gemerlap itu, tersembunyi konsekuensi yang bisa berdampak negatif bagi kesehatan fisik dan mental.
Dalam sesi obrolan “Jaga Malam” PRO 2 RRI Madiun, psikolog Andy Cahyadi, M.Psi. mengungkapkan sisi lain dari seorang overachiever yang jarang diperbincangkan. Ia menekankan bahwa meskipun pencapaian adalah hal positif, segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tetap berisiko.
“Kalau bicara tentang konsep, achievement itu kan hal yang baik, mencapai sebuah harapan atau goals itu kan hal baik. Hanya kalau ada kata ‘terlalu’, kita melakukannya terlalu atau berlebih, over, nah itu yang sebenarnya melebihi batas kebaikan itu sendiri. Yang pada akhirnya itu akan membawa dampak pada diri sendiri,” jelas Andy.
Overachiever rentan terhadap gangguan kesehatan fisik maupun mental. Hal ini tidak lepas dari ketidak puasan atas apa yang mereka capai, selalu merasa kurang dan keharusan berbuat lebih. Menurut Andy, gangguan kesehatan fisik sebagai dampak overachiever terjadi karena mereka cenderung mengabaikan pola hidup sehat demi mengejar target.
"Mereka akan lupa makan, sering mengambil lembur, dan mengabaikan jam tidur. Saking semangatnya, mereka mungkin gak akan merasa capek walau sebenarnya tubuhnya sudah lelah. Secara fisik sebenarnya sudah melampaui batas kemampuan mereka," ungkapnya.
Sementara itu, selain kesehatan fisik, kondisi psikis seorang overachiever pun tidak luput dari ancaman. Terlalu fokus pada pencapaian membuat mereka jarang merasa puas, bahkan ketika telah meraih sesuatu yang besar di mata orang lain. Tekanan ini, menurut Andy, bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri.
"Menurut orang lain yang dia lakukan sudah bagus, tapi seorang overachiever merasa itu masih kurang. Bukan tekanan pekerjaan, tapi tekanan karena tuntutan diri sendiri. Padahal kita perlu memperhatikan dan mengistirahatkan diri," tegasnya.
Andy juga menekankan, pentingnya mengelola ambisi secara sehat. Ia menyarankan agar seseorang mampu mengukur kapasitas diri dengan tepat. Terutama bagi para overachiever, kemampuan untuk menahan dorongan ambisi menjadi hal krusial demi menjaga keseimbangan hidup.
“Ambisi yang terlalu besar akan membuat orang tidak pernah puas dan kecenderungan menjadi overachiever. Maka penting untuk bisa menekan ambisi agar tidak melewati batas kemampuan,” pungkasnya.
Fenomena overachiever memang mencerminkan semangat dan dedikasi tinggi. Namun, bila tidak diiringi kesadaran akan batas kemampuan diri, justru bisa menjadi bumerang. Menjaga keseimbangan antara pencapaian dan kesehatan, baik fisik maupun mental, adalah kunci hidup yang lebih utuh dan bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....