Makna Surat Al-‘Ashr Dalam Kehidupan Agar Tidak Merugi
- 13 Feb 2025 10:13 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Surat Al-‘Ashr, terdiri dari tiga ayat yang cukup singkat. Meski demikian, surat ini memiliki makna yang besar. Diantaranya, tentang memanfaatkan waktu agar tidak menjadi golongan orang-orang yang merugi.
Ustaz Shofar S.Pd.I SM mengatakan, Imam Ibnu Katsir menghadirkan ungkapan dari Imam Syafi’i tentang surat Al-‘Ashr. “Dimana dijelaskan, jika manusia mendatadaburi, memahami, kemudian mengaplikasikan maka niscaya surat Al-‘Ashr ini, sudah memberikan manfaat yang luas, dan kecukupan dalam beragama,” ucap dia.
Wal-‘aṣr. Innal-insāna lafī khusr. Illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr. Artinya, Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.
“’Ashr dijelaskan oleh mufasir (ahli tafsir) itu adalah waktu, yang manusia didalamnya. Semua aktivitas yang kita lakukan, dari bangun tidur sampai tidur lagi itu namanya ‘Ashr. Waktu pada kita dari lahir sampai wafat itulah yang dinamakan ‘Ashr,” ujar dia saat menjadi narasumber Mutiara Pagi Pro 1 RRI Madiun beberapa waktu lalu (8/2/2025).
Dijelaskan Shofar, ‘Ashr ini yang sering kali membuat manusia menjadi khusr atau rugi. “Waktu yang Allah hadirkan pada kita sebagai hamba-Nya, akan menjadi rugi. Kecuali apabila kita menghadirkan empat perkara, dalam aktivitas yang kita kerjakan,” ujar dia. Empat perkara tersebut, diantaranya;
1. Landasi dengan iman
Semua perbuatan yang kita lakukan, kita kerjakan, harus dilandasi dengan iman. “Maka, dia akan membawa pada kebaikan dan menghindarkan pada kerugian. Semua aktivitas 24 jam kita, kita landasi dengan iman,” ucap dia.
Iman yang bagaimana agar tidak rugi? “Adalah iman yang dapat kita buktikan. Dimana iman itu adanya dalam hati, itu dapat perlihatkan dan tampakan dengan (poin yang) kedua (yaitu beramal saleh),” ujar Shofar.
2. Beramal saleh
“Aktivitas yang kita lakukan, akan menjadi amal saleh, bernilai ibadah, jika aktivitas itu dibimbing iman,” ucap Shofar. Iman dan amal saleh itu, akan selalu bergandengan. “Beramal dengan anggota tubuh kita. Amal saleh ini yang akan menghindarkan dari kerugian,” ucap dia.
3. Saling menasehati dalam kebenaran
“Bagaimana waktu yang kita peroleh ini, ‘ashr ini tidak menjadi khusr. Adalah wa tawāṣau bil-ḥaqqi, saling mendukung, saling membimbing, saling menasehati. Bil-haqq, apa itu haqq? Yang namanya haq itu dari Allah,” ujar dia.
Shofar mengatakan, al-haq itu pertama adalah ibadah, kedua adalah muamalah (hubungan manusia dalam interaksi sosial), ketiga akhlak. “Itu yang dimaksud al-haq seperti yang disebutkan Imam At-Thabari dalam tafsirnya,” ucap dia.
Dijelaskannya, bahwa kita harus saling mendukung, saling menyemangati, saling menasehati dalam ibadah. “Kita tidak mampu ibadah kita baik kalau tidak ada yang membimbing. Maka wa tawāṣau itu dibutuhkan kita dalam ibadah, untuk kesempurnaan ibadah,” ucap dia.
Kemudian, muamalah juga butuh wa tawāṣau, saling mendukung, saling mengajar, saling membimbing, dan saling menasehati. “Bahwa ibadah yang kita lakukan akan bernilai kemuliaan jika muamalah yang kita lakukan juga baik,” ucap dia.
Menurut Shofar, kalau muamalah kita baik, ibadah kita akan bernilai baik. “Tapi kalau ibadah tanpa diiringi muamalah yang baik, akan membuat sia-sia ibadah itu. “Muamalah baik sangat dibutuhan untuk menghindari khusr, kerugian,” ucap dia.
Jelas Shofar, para sahabat pernah mengadu pada Rasulullah. “Wahai Rasulullah ada seorang perempuan itu dia siang harinya puasa, malam bangun salat malam, setia hari berinfak, bershodaqoh (sedekah), tapi dia suka, sering menyakiti tetangganya dengan lisannya, mencela atau menghina. Rasulullah menjawab, tidak ada kebaikan padahanya, dia termasuk golongan ahli neraka,” ucap dia.
Sebab apa? Ibadah bagus, tapi hubungan sesama manusia tidak baik. “Disinilah penting saling menasehati, membimbing, untuk baik juga dalam kita bersama ini. Baik dalam berteman, bertetangga, karena juga menentukan ibadah kita itu diterima Allah SWT,” ucap dia.
Lalu akhlak. “Al-haq itu adalah juga akhlak, bagaimana perilaku keseharian kita. Pekerjaan kita. Juga akan dimbimbing akhlak. Kehidupan akan menjadi baik jika dibimbing dengan akhlak yang baik dan mulia,” ucap dia.
4. Saling menasehati dalam kesabaran
Shofar mengatakan, saling menasehati dalam kesabaran. “Itu dijelaskan dalam ketaatan. Bagaimana, kita dalam melakukan ketaatan itu juga butuh kesabaran,” ujar dia.
Maka, saling menasehati dalam sabar itu juga dibutuhkan. “Hal ini untuk menghindari kerugian waktu yang Allah berikan. Apabila, kita hadirkan empat perkara tadi,” ucap Shofar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....