Makna Filosofis Tembang Dolanan yang Kini Makin Dilupakan

  • 23 Jan 2025 17:55 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Tembang dolanan adalah lagu-lagu permainan atau lagu yang dinyanyikan untuk mengiringi sebuah permainan. Zaman dulu tembang dolanan menjadi media hiburan favorit anak-anak, namun sekarang justru makin dilupakan.

Anggota Komunitas Dwija Jawa Dian Widiyawati mengatakan, tembang dolanan adalah yang biasanya dulu dinyanyikan anak-anak ketika bermain. “Ada seperti tembang Padang Bulan,” ujar dia saat acara Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) Pro 1 RRI Madiun (8/1/2025).

Menurut Dian, lirik dari tembang dolanan ini sederhana. “Bahkan anak-anak dulu bisa memahami. Era 1990-an masih banyak yang tahu (tembang dolanan). Kalau anak-anak sekarang sepertinya tidak terlalu tahu. Mungkin ada pergeseran (mulai dilupakan).,” ujar dia.

Anggota Komunitas Dwija Jawa yang lainnya, Ismi Yunfida menambahkan, beberapa tembang dolanan yang masih dia kenang hingga saat ini adalah Gundul-gundul Pacul. “Ini adalah salah satu lagu favorit. Dari kecil sampai tua seperti ini juga masih suka mendengar,” ujar dia.

Bukan tanpa alasan Ismi menyukai tembang tersebut. Sebab menurutnya, tembang dolanan Gundul-gundul Pacul tersebut memiliki makna atau pesan, bahwa menjadi orang jangan memiliki sifat sombong.

“Gundul-gundul Pacul itu secara makna, jadi orang itu jangan kemlinthi (sombong, sok, dan merasa paling bagus), kalau kemlinthi itu ada imbasnya,” ujar dia. Seperti kata gembelengan, itu artinya sembrono, jika dilakukan maka apa yang diangkat nantinya bisa tumpah.

Seperti dalam lirik, Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan (membawa bakul (di atas kepala) (dengan) sembrono). Wakul ngglimpang segane dadi sak latar (bakul terguling, nasinya tumpah memenuhi halaman).

Senada disampaikan oleh anggota Komunitas Dwija Jawa yang lainnya, Dian Kiswarini yang mengatakan, sangat menyukai tembang Cublak-cublak Suweng. “Karena ada bentuk permainan langsung, ada tindakan. Sambil bermain sambil melagukan tembang dolanan,” ujar dia.

Rini mengatakan, Cublak-cublak Suweng itu mengandung makna filosofisnya sendiri. “Itukan ada sesuatu yang disembunyikan, itu artinya apa? Anak-anak itu diajarkan saat pertama memilih sesuatu kemudian salah, itu masih ada kesempatan untuk memperbaiki keselahannya,” ujar dia.

Artinya, lanjut Rini, berusaha lagi, sampai nanti berhasil menemukannya sesuatu yang disembunyikan itu. “Ada juga, waktu teman tidak menemukan, lalu ada yang bersorak. Itu ada maknanya, kalau ada orang yang sedang kesusahan tidak baik kalau disoraki,” ujar dia.

Jadi, mengajarkan jangan sampai bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. “Seperti itu, hal sederhana dari tembang dolanan Cublak-cublak Suweng, yang mengajarkan budi pekerti,” ucap dia.

Namun, sayangnya tembang dolanan tidak banyak diketahui oleh anak-anak zaman sekarang. Dian menjelaskan, anak-anak sekarang ini di media sosial dicekoki tembang-tembang yang bukan konsumsi usianya.

Serta dari keluarga juga tidak mengenalkan tembang dolanan tersebut. “Sehingga mereka juga tidak tahu. Mirisnya seperti itu. Dan ketika kita coba kenalkan (tembang dolanan), kesan dari anak, lagu opo kuwi?,” ujar Dian.

Dijelaskan Dian, dari sekolah sebenarnya sudah memberikan materi tentang tembang dolanan. “Pembelajaran untuk tembang dolanan itu ada di kelas VII semeter II, itu hanya dua kali pertemuan,” ujar Dian yang juga guru Bahasa Jawa tersebut.

Sementara Ismi menilai, pembelajaran tembang dolanan memang kurang. “Hal itu terlihat dari dua pertemuan itu dibagi satu kali materi dan satu praktek. Yang dinyanyikan siswa biasanya Gundul-gundul Pacul. Dari absen satu sampai akhir gundul semua yang dinyanyikan,” ucap dia.

Sedangkan Rini menambahkan, sekarang ini, zamannya anak-anak lahir bersama gadget. “Mereka lahir sudah mengenal gadget. Jadi kita yang harus menyesuaikan. Kalau hanya diajarkan di sekolah, praktik di sekolah itu tidak cukup,” ujar dia.

Sebagai solusi mengenalkan tembang dolanan, jelas Rini, butuh sosok seperti pelaku seni, influencer atau konten kreator. “Kalau tembang dolanan dibawakan mereka, mungkin akan lebih bisa menarik untuk anak-anak dan menirunya,” ujar dia.

Jadi harus berinovasi menyesuaikan zamannya anak-anak sekarang, supaya lebih kenal tembang dolanan. “Butuh peran dari seniman juga untuk mengkreasikan, membumikan kembali tembang dolanan,” ucap dia.

Mengenai musisi saat ini yang menyanyikan tembang dolanan dengan irama hip-hop, rock, maupun keroncong, Rini pun mendukungnya. “Saya ini termasuk guru yang pro dengan inovasi,” ujar dia.

“Jadi saya inginnya itu anak-anak didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Sekarang anak-anak kalau mau dipaksakan (menyukai tembang dolanan) versi asli, maka mereka tidak akan tertarik,” ujar dia.

Jadi, kalau kodrat zamannya dekat dengan sosial media, maka lebih efektif dan efisien kalau diinovasikan sesuai dengan kodrat zaman mereka. “Tidak masalah jika tembang dolanan itu di-mixing apapun, yang membuat mereka tertarik dan mengenalnya,” ucap dia.

Ismi menambahkan, sekarang ini harus menyesuaikan, tidak bisa seperti dulu, mbalik kayak orang tua dulu. “Disesuaikan zamannya, yang penting anak bisa memaknai. Anak-anak tahu artinya dan nasehat apa yang ada di dalamnya,” ucap dia.

Sementara Dian mengaku, sebenarnya tidak terlalu setuju dengan tembang dolanan yang di-mixing irama modern. “Kalau saya sebenarnya tidak rela, kalau warisan budaya adi luhung kemudian harus dikolaborasikan dengan budaya sekarang,” ujar dia.

“Tapi mau bagaimana lagi? Kalau kita menolak, jangan dibuat begitu (di-mixing), ternyata kalau kita tetap perdengarkan versi lama, maka tidak ada yang mendengarkan. Akhirnya mau tidak mau, menerima dan menyesuaikan. Selama tidak merubah liriknya,” ucap dia.

Berikut ini adalah beberapa tembang dolanan;

Padang Bulan

Yo prokonco dolanan neng njobo
Padang bulan padange koyo rino
Rembulane ne seng awe-awe
Ngelingake ojo turu sore

Yo prokonco dolanan neng njobo
Padang bulan padange koyo rino
Rembulane ne seng awe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

Gundul-gundul Pacul

Gundul gundul pacul cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Cublak-cublak Suweng

Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundung gudhel
Pak Empong lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe

Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....