YONO (You Only Need One) yang Menggeser YOLO (You Only Live Once)

  • 07 Jan 2025 23:16 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang diartikan sebagai tindakan mengejar kenikmatan hidup secara konsumtif untuk memuaskan hasrat atau kesenangan sesaat, mulai bergeser pada YONO (You Only Need One). YONO yang ramai dibahas dan mulai popular di kalangan gen Z di Korea Selatan, menjadi istilah dan gaya hidup baru.

YONO diartikan sebagai kebalikan YOLO karena dibalik arti You Only Need One (Kamu Hanya Butuh Satu), memiliki makna gaya hidup yang lebih mengutamakan kualitas, meminimalkan konsumsi barang yang tidak perlu, hingga dampak penghematan hingga kelestarian lingkungan. Dengan membeli sedikit barang, selain berhemat secara ekonimi, jumlah sampah sisa pemakaian juga akan berkurang.

Andy Cahyadi, M.Psi., (psikolog) menjelaskan jika YOLO bermakna hidup hanya sekali sehingga harus dibuat senang, sementara YONO bermakna kita perlu menentukan prioritas apa yang dibutuhkan.

“Kalau YOLO memungkinkan apapun itu apakah kebutuhan atau cuma keinginan sesaat ya udah dibeli aja. Hidup cuma sekali ya diseneng-senengin aja. Beda dengan YONO-You Need Only One, ya kita cuma butuh satu, gak perlu banyak-banyak kita beli, jadi beli satu aja udah cukup”, jelas Andy.

Dengan kata lain YONO mengharuskan seseorang membuat prioritas dan mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan menerapkan gaya hidup ini, sifat konsumtif seseorang bisa ditekan.

“Tanpa kita sadari kita menjadi boros karena terjebak promo. Harusnya kita hanya butuh satu baju, tapi karena ada promo dua gratis satu, kita akhirnya tergiur untuk membeli dua barang. Kalau dihitung jatuhnya harga untuk satu barang memang lebih murah. Tapi kita kan jadi boros karena harusnya hanya mengeluarkan uang untuk satu barang, akhirnya harus membayar dua kali lipat karena membeli dua barang demi mendapat bonus”, lanjut Andy.

YONO menjadi tantangan sekaligus jawaban untuk kaum konsumtif. YONO akan melatih seseorang mengendalikan keinginan dan lebih memprioritaskan kebutuhan. Selain berdampak pada kesejahteraan ekonomi, gaya hidup ini juga menyejahterakan jiwa dengan mengurangi tingkat stress akibat pemborosan uang dan mengejar keinginan.

“Di masa krisis ekonomi, YONO menawarkan solusi. Kita jadi terlatih untuk berhemat. Selain itu dampaknya lebih ke berkurangnya tingkat stress, karena kita tidak lagi terus mengejar keinginan yang sebenarnya tidak kita butuhkan”, pungkas Andy.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....