The Paradox of Choice, Saat Semakin Bingung di antara Banyak Pilihan

  • 27 Nov 2024 00:54 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Banyaknya pilihan, di satu sisi membantu kita dalam ketersediaan alternatif. Tapi tidak jarang, semakin banyaknya pilihan membuat kita semakin bingung menentukan pilihan atau membuat keputusan. Fenomena terlalu banyaknya pilihan membuat kita semakin bingung memilih atau membuat keputusan disebut The Paradox of Choice. Suatu keadaan yang seharusnya memudahkan kita memilih berbagai aspek kehidupan, namun kenyataannya membuat kita sulit menentukan pilihan tersebut.

The Paradox of Choice diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Barry Schwartz dalam bukunya yang berjudul "The Paradox of Choice: Why More Is Less". Meskipun banyak orang beranggapan jika banyak pilihan akan membuat kita leluasa dan bebas, namun kenyataannya terlalu banyak pilihan membuat kita semakin bingung memilih.

Andy Cahyadi, M.Psi., (psikolog) saat acara obrolan jaga alam PRO 2 RRI Madiun menyatakan The Paradox of Choice bisa dialami siapa saja. Banyaknya pilihan bisa tentang apa saja, benda maupun manusia.

“Kenapa sih kok banyak pilihan malah membuat kita pusing. Ya karena yang mau kita pilih itu semakin banyak. Misal disuruh milih A atau B, masih gampang. Kalau sesuatu gak ada di A, bisa jadi ada di B, ya saya tinggal pilih B. tapi kalau pilihannya A sampai Z, in ikan cukup membingungkan untuk memilih salah satunya. Semakin banyak (pilihan), otomatis semakin kita sulit menentukan mau pilih yang mana”, ungkap Andy.

Dari banyaknya pilihan, setiap hal pasti memiliki kekhasan atau kriteria tertentu. Di sisi pemilih, setiap orang memiliki preferensi dan selera yang berbeda-beda. Berdasarkan hal tersebut, kita bisa mempersempit atau mengerucutkan pilihan.

“Dari banyaknya pilihan, mereka pasti punya karakter masing-masing. Tinggal kita melihat, mana kriteria yang akan kita prioritaskan. Misal mau beli gadget. Kan banyak pilihannya. Kita bisa mulai dari kriteria harga. Mau beli gadget yang harga berapa, katakanlah mau yang di bawah atau di atas 2 juta. Misal, mau cari yang di bawah 2 juta, nah itu kan banyak lagi pilihannya. Setelah itu tentukan kriteria lain, misal dari segi kameranya, kapasitas memorinya, dan seterusnya hingga kriteria mengerucutkan pilihan kita”, sambung Andy.

Menghadapi banyaknya pilihan, menurut Andy, mengharuskan kita menentukan kriteria-kriteria yang mempersempit pilihan. Setelah pilihan menjadi lebih sedikit, kita perlu melakukan langkah selanjutnya yaitu membandingkan atau menilai pilihan-pilihan yang jumlahnya sudah berkurang tersebut.

“Dengan memperkecil pilihan berdasarkan kriteria-kriteria yang kita buat, melihat beberapa review terkait pilihan yang sudah tinggal beberapa itu, kita bisa menilai mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan kita”, jelas Andy.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....