Tumpeng, Sejarah dan Makna Filosofinya

  • 31 Okt 2024 06:01 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Tumpeng atau nasi tumpeng kerap kita jumpai dalam kehidupan kita sehari hari. Biasanya tumpeng disajikan saat acara tasyakuran atau syukuran. Baik syukuran ulang tahun, perayaan keagamaan atau acara peresmian sesuatu dan sebagainya. Pada umunya tumpeng adalah nasi yang berbentuk kerucut dan berwarna kuning atau putih. Di sekitar nasi yang dibentuk kerucut dan ditata beserta dengan banyak ragam lauk pauk dan juga sayur mayur.

Dibalik lezatnya hidangan nasi tumpeng, ternyata memiliki sejarah dan makna dari setiap bagiannya. Dikutip dari https://id.wikipedia.org & https://raminten.com, berikut sejarah, makna dan filosofi nasi tumpeng

Sejarah dan Tradisi

Masyarakat di pulau Jawa, Bali dan Madura memiliki kebiasaan membuat tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa penting, seperti perayaan kelahiran atau ulang tahun serta berbagai acara syukuran lainnya. Meskipun demikian kini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tumpeng. Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Meskipun tradisi tumpeng telah ada jauh sebelum masuknya Islam ke pulau Jawa, tradisi tumpeng pada perkembangannya diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam Jawa, dan dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi kenduri Slametan pada masyarakat Islam tradisional Jawa, tumpeng disajikan dengan sebelumnya digelar pengajian Al Quran. Menurut tradisi Islam Jawa, "Tumpeng" merupakan akronim dalam bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya "Buceng", dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh) Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al Isra' ayat 80: "Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dari-Mu kekuasaan bagiku yang memberikan pertolongan". Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Maka bila seseorang berhajatan dengan menyajikan Tumpeng, maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Yang Maha Pencipta agar kita dapat memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan, serta memperoleh kemuliaan yang memberikan pertolongan. Dan itu semua akan kita dapatkan bila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

Makna Simbolis Nasi Tumpeng:

Bentuk Kerucut: Melambangkan gunung suci, tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur, serta melambangkan hubungan manusia dengan alam semesta. Bentuk kerucut yang menjulang tinggi juga diartikan sebagai doa dan harapan untuk mencapai cita-cita.

Nasi Kuning: Warna kuning melambangkan kemakmuran, kekayaan, dan kesucian. Penggunaan nasi kuning dalam tumpeng melambangkan rasa syukur atas karunia yang diterima dan doa untuk mencapai kemakmuran.

Lauk Pauk: Setiap lauk pauk yang disajikan bersama nasi tumpeng memiliki makna simbolisnya sendiri. Contohnya, ayam melambangkan keberanian, telur melambangkan kesuburan, dan urap melambangkan kesederhanaan.

Memotong dan Membagikan: Tradisi memotong nasi tumpeng dan membagikannya kepada orang lain melambangkan kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur atas karunia yang diterima. Orang yang memotong tumpeng biasanya adalah orang yang dihormati atau yang memiliki kedudukan tinggi.

Nilai Budaya Nasi Tumpeng:

Penghormatan kepada Leluhur: Tradisi nasi tumpeng terdahulu erat kaitannya dengan ritual penghormatan kepada leluhur. Bentuk kerucut nasi tumpeng melambangkan gunung suci, tempat bersemayamnya para roh leluhur.

Rasa Syukur: Nasi tumpeng kini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang diterima. Tradisi memotong dan membagikan nasi tumpeng melambangkan rasa syukur yang dibagikan kepada sesama.

Demikian sejarah, makna dan nilai dari sajian nasi tumpeng.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....