Sibling Rivalry: Berseteru dan Bersaing dengan Saudara Kandung, Wajar?
- 04 Okt 2024 16:59 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Akhir-akhir ini fenomena bersaing dengan saudara kandung kembali mencuat setelah beberapa waktu lalu muncul issue selebriti yang berseteru dengan saudara sedarahnya sendiri. Ya, Sibling rivalry atau persaingan antar saudara kandung adalah fenomena yang kerap muncul dalam keluarga, terutama di antara anak-anak yang memiliki rentang usia dekat. Fenomena ini dapat memicu konflik dan ketegangan, baik antar saudara maupun antara anak dengan orang tua. Dalam sebuah diskusi pada program pengarusutamaan gender Pro1 RRI Madiun, Andi Cahyadi, M.Psi., Psikolog, memberikan penjelasan mendalam mengenai cara bijak menghadapi sibling rivalry dan bagaimana orang tua dapat mengatasinya dengan efektif.
Menurut Andi Cahyadi, sibling rivalry adalah hal yang wajar terjadi. Ini disebabkan oleh dinamika keluarga yang berubah, misalnya dengan kehadiran anak baru atau perbedaan perhatian dari orang tua. “Setiap anak ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sama dari orang tua. Ketika anak merasa ada ketidakadilan, mereka cenderung bereaksi negatif, yang berujung pada rivalitas dengan saudara kandung,” jelasnya saat hadir di studio Pro1 RRI Madiun, Rabu (2/10/2024).
Namun, Andi menekankan bahwa orang tua memiliki peran kunci dalam meredam konflik ini. Salah satu cara bijak yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan menjaga keseimbangan perhatian dan kasih sayang kepada setiap anak. “Hindari sikap membandingkan anak satu dengan yang lain, karena hal itu hanya akan memperparah persaingan. Setiap anak memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing, jadi berikan penghargaan sesuai dengan prestasi dan usaha mereka, tanpa perlu perbandingan,” ungkapnya.
Selain itu, Andi juga menyarankan agar orang tua memberikan ruang kepada anak untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri. “Jangan terlalu cepat ikut campur dalam setiap perdebatan. Berikan mereka kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah secara mandiri. Namun, tetap awasi agar konflik tidak berujung pada kekerasan atau dampak emosional yang lebih besar,” tambahnya.
Andi juga menggarisbawahi pentingnya komunikasi terbuka dalam keluarga. Dengan komunikasi yang baik, orang tua dapat memahami perasaan dan kebutuhan anak-anak, sehingga dapat mengatasi akar permasalahan yang menyebabkan persaingan. “Ajak anak-anak berbicara secara individu tentang apa yang mereka rasakan, lalu coba fasilitasi diskusi bersama untuk mencapai solusi yang saling menguntungkan,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, Andi merekomendasikan agar orang tua melibatkan setiap anak dalam kegiatan yang mempromosikan kerja sama dan rasa saling mendukung. Misalnya, mengajak anak untuk melakukan tugas rumah bersama atau bermain permainan yang membutuhkan kolaborasi. Hal ini akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan mengurangi persaingan yang tidak sehat.
Andi Cahyadi menekankan bahwa sibling rivalry, jika dikelola dengan bijak, bisa menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang dinamika sosial, kompromi, dan bagaimana menyelesaikan konflik secara sehat. "Yang terpenting adalah orang tua harus tetap tenang dan sabar dalam menghadapi situasi ini. Dengan pendekatan yang tepat, sibling rivalry dapat diredam dan bahkan menjadi ajang pembelajaran bagi anak-anak tentang pentingnya hubungan persaudaraan yang kuat," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....