Sukses Tak Harus Hebat, Menemukan Makna dari Pencapaian Personal

  • 10 Agt 2026 20:28 WIB
  •  Madiun

RRI. CO. ID, Madiun- Kesuksesan kerap dipahami sebagai pencapaian besar, memiliki karier cemerlang, penghasilan tinggi, atau mampu meraih sesuatu yang mendapatkan pengakuan dari banyak orang. Padahal, ukuran sukses setiap individu tidak selalu sama. Bagi sebagian orang, sukses dapat berarti mampu menyelesaikan pendidikan, memiliki pekerjaan yang sesuai minat, membahagiakan keluarga, atau sekadar menjadi pribadi yang terus berkembang. Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun, Dr. Dwi Sri Rahayu, M.Pd., mengatakan bahwa seseorang tidak perlu menjadi luar biasa menurut ukuran orang lain untuk dapat disebut sukses.

Menurutnya, kesuksesan seharusnya tidak hanya dilihat dari pencapaian yang tampak dari luar, tetapi juga dari kemampuan seseorang mengenali potensi, menerima dirinya, serta menjalani kehidupan sesuai dengan nilai dan tujuan yang dianggap bermakna. “Sukses itu tidak harus hebat. Setiap orang mempunyai standar kesuksesan masing-masing. Ketika seseorang mampu mencapai sesuatu yang memang menjadi tujuan dan sesuai dengan kemampuannya, itu sudah merupakan sebuah keberhasilan,” ujar Dwi Sri Rahayu, Senin, 10 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, tekanan untuk menjadi “hebat” dapat muncul ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Terlebih di era media sosial, keberhasilan orang lain mudah terlihat, sementara proses panjang dan berbagai kegagalan di balik pencapaian tersebut sering kali tidak ditampilkan. Kondisi itu dapat membuat seseorang merasa tertinggal, tidak cukup baik, bahkan mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

Padahal, menurut Dwi, perjalanan setiap individu memiliki titik awal, kemampuan, kesempatan, serta tantangan yang berbeda. Karena itu, membandingkan pencapaian diri dengan orang lain secara terus-menerus justru dapat menghambat proses perkembangan pribadi. Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, terdapat sejumlah pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu seseorang mengatasi tekanan tersebut.

Pertama, pendekatan Person-Centered. Pendekatan yang dikembangkan Carl Rogers ini menekankan pentingnya penerimaan diri dan kemampuan individu untuk berkembang secara positif. Dalam konteks kesuksesan, seseorang perlu dibantu untuk mengenali siapa dirinya, apa yang dibutuhkan, serta apa yang benar-benar ingin dicapai tanpa semata-mata mengikuti standar orang lain. Melalui proses konseling yang memberikan ruang aman dan penerimaan, individu dapat lebih memahami dirinya dan menentukan tujuan yang sesuai dengan nilai pribadinya.

Kedua, Rational Emotive Behavior Therapy atau REBT. Pendekatan ini membantu individu mengenali pola pikir yang tidak rasional. Salah satunya adalah keyakinan bahwa “saya harus hebat agar dianggap berhasil” atau “kalau saya tidak seperti orang lain, berarti saya gagal”. Dalam REBT, pikiran tersebut dapat dievaluasi dan digantikan dengan cara berpikir yang lebih realistis. Seseorang dapat belajar memahami bahwa keberhasilan tidak harus selalu berupa pencapaian besar atau pengakuan sosial.

Ketiga, Solution-Focused Brief Counseling atau Solution-Focused Brief Therapy. Pendekatan berfokus pada solusi ini mengajak individu melihat kekuatan, sumber daya, serta keberhasilan-keberhasilan kecil yang sudah dimiliki. Alih-alih terus berfokus pada kekurangan, individu diajak mencari langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi juga sebagai proses dan kemajuan kecil yang terjadi dari waktu ke waktu.

Dwi Sri Rahayu menambahkan, lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat juga memiliki peran penting dalam membentuk cara seseorang memandang kesuksesan. Anak dan remaja, khususnya, perlu mendapatkan pemahaman bahwa setiap orang memiliki potensi dan jalur perkembangan yang berbeda. Menurutnya, memberikan apresiasi terhadap proses menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang membangun pandangan yang lebih sehat tentang keberhasilan.

Kesuksesan, lanjutnya, tidak selalu harus diukur dari seberapa tinggi seseorang berada dibandingkan orang lain. Kesuksesan juga dapat dilihat dari seberapa jauh seseorang berkembang dibandingkan dirinya sendiri di masa lalu. Dengan perspektif tersebut, seseorang dapat belajar menetapkan target yang realistis, menghargai proses, menerima keterbatasan, sekaligus terus mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pada akhirnya, menjadi sukses tidak selalu berarti menjadi yang paling hebat. Kesuksesan dapat berarti mampu menjalani kehidupan dengan tujuan, bertumbuh sesuai kemampuan, serta menemukan makna dari apa yang sedang dijalani. Sebab, setiap orang memiliki definisi suksesnya sendiri. Dan terkadang, pencapaian yang terlihat sederhana bagi orang lain justru merupakan sebuah kemenangan besar bagi diri kita sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....