Cegah Perundungan, SRT 1 Kabupaten Madiun Siapkan Langkah Mitigasi
- 07 Okt 2026 12:31 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Pihak Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Madiun menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah potensi terjadinya aksi perundungan (bullying) di lingkungan sekolah berbasis asrama tersebut.
Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menyampaikan hingga saat ini belum ada laporan maupun informasi mengenai kasus perundungan di SRT 1 Kabupaten Madiun. Kendati demikian, ia meminta seluruh tenaga kependidikan untuk terus memperkuat pengawasan dan kolaborasi mencegah terjadinya perundungan di lingkungan tersebut.
"Alhamdulillah sementara ini belum ada informasi dan kami berharap tidak. Tadi sudah kami sampaikan harus memberikan satu contoh. Makanya mulai dari wali asrama, wali asuh, guru pendidik itu harus berkolaborasi untuk memberikan informasi yang komprehensif terhadap anak-anak didik kita," ujar Hari.
Sementara itu, Kepala SRT 1 Kabupaten Madiun, Rohmah Agustin Setyowuni, mengatakan pencegahan perundungan menjadi perhatian utama pihak sekolah, terutama dalam kehidupan siswa di asrama. Ia menyebut mengedepankan pendekatan humanis untuk mengatasi serta mencegah masalah perundungan.
"Cara yang paling kami rasa efektif adalah kami berusaha mendekati anak-anak dengan hati. Jadi, apapun itu kita cari solusinya kalaupun itu belum terjadi atau misalnya itu terjadi, kita coba mitigasi caranya seperti apa," ujarnya.
Rohmah menambahkan pencegahan perundungan di lingkungan sekolah juga dilakukan melalui pengawasan oleh wali asrama dan petugas keamanan. Mereka diminta menjalankan sistem piket keliling untuk mengawasi aktivitas siswa dan mengantisipasi potensi perselisihan di lingkungan asrama.
SRT 1 Kabupaten Madiun juga menggandeng unsur TNI, termasuk Babinsa, serta Universitas Pertahanan untuk memberikan pembekalan kepada siswa. Rohmah menegaskan pembekalan dari pihak-pihak tersebut bukan berbentuk latihan fisik seperti militer, melainkan terkait kedisiplinan hingga edukasi tata cara berkehidupan di asrama.
"Mereka akan menginap selama kurang lebih 7 hari. Mulai dari mereka bangun sampai tidur lagi diajarkan bagaimana caranya di di asrama. Supaya mereka tertib diri, jaga emosi, jaga diri dan juga mengerti apa yang harus mereka lakukan setiap hari di sekolah yang berbasis asrama," lanjut Rohmah.
Terkait dinamika antarsiswa, Rohmah menjelaskan potensi perselisihan biasanya dipicu oleh kesalahpahaman khas kehidupan asrama, seperti barang atau pakaian yang tertukar saat mencuci. Namun, jika ditemukan siswa yang mengalami kendala emosional atau merasa tidak nyaman, pihak sekolah akan langsung berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Sentra untuk memberikan pendampingan psikologis kepada mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....