BRIN Dampingi Pengembangan Durian Saman Unggulan asal Plangkrongan Magetan

  • 21 Jul 2026 18:20 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Penetapan Durian Saman sebagai varietas unggul nasional menjadi titik awal pengembangan komoditas hortikultura di Desa Plangkrongan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mendampingi masyarakat untuk memperbanyak populasi tanaman sekaligus menjaga kemurnian varietas lokal agar mampu memenuhi permintaan pasar.

Pendampingan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pengukuhan Taruna Tani "Tunas Agro Sejahtera" dan Sarasehan Desa Agro Wisata yang mempertemukan peneliti BRIN, pemerintah desa, petani, komunitas pecinta durian, serta mahasiswa pendamping. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan Durian Saman setelah resmi memperoleh Surat Keputusan Menteri Pertanian sebagai varietas unggul nasional pada 2026.

Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Cipto Nugroho, mengatakan pengakuan sebagai varietas unggul bukan berarti proses pengembangan telah selesai. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah memperbanyak populasi Durian Saman agar tidak kalah bersaing dengan varietas introduksi yang telah lebih dulu menguasai pasar.

"Status varietas unggul nasional merupakan awal pengembangan. Kalau tidak segera diperbanyak, varietas lokal bisa tergerus oleh varietas introduksi seperti Musang King maupun Montong. Padahal kualitas Durian Saman tidak kalah bersaing," ujarnya.

Cipto menjelaskan, berdasarkan hasil pendampingan BRIN, populasi Durian Saman yang terdata saat ini baru sekitar 350 pohon. Jumlah tersebut dinilai belum sebanding dengan tingginya permintaan dari berbagai daerah.

Karena itu, BRIN merekomendasikan percepatan perbanyakan tanaman melalui teknik top working, sambung pucuk, maupun okulasi. Metode tersebut dinilai lebih efektif dibanding menanam bibit dari awal karena mampu menghasilkan pohon produktif dalam waktu lebih singkat.

"Tahapan pertama adalah menambah populasi pohon. Setelah jumlahnya mencukupi, baru produktivitas per pohon ditingkatkan melalui penerapan budidaya yang lebih baik," kata Cipto.

Selain keterbatasan populasi, BRIN juga mencatat produktivitas Durian Saman dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan akibat perubahan pola musim. Curah hujan yang tinggi menyebabkan proses pembungaan terganggu sehingga banyak bunga gagal berkembang menjadi buah.

Sementara itu, Kepala Desa Plangkrongan Wawan Setiyo Budi mengatakan pengembangan Durian Saman merupakan hasil kolaborasi masyarakat, pemerintah desa, perguruan tinggi, dan lembaga riset. Menurutnya, perhatian terhadap durian lokal bermula dari komunitas pecinta durian yang terbentuk beberapa tahun lalu sebelum akhirnya berkembang menjadi program pemberdayaan desa.

Ia menyebut Desa Plangkrongan memiliki sekitar 2.000 hingga 3.000 pohon durian dari berbagai varietas. Lebih dari seribu pohon telah memasuki usia produktif, dengan Durian Saman menjadi varietas yang paling diunggulkan karena telah memperoleh pengakuan nasional.

"Harapan kami, Durian Saman menjadi identitas Desa Plangkrongan. Namun yang ingin kami bangun bukan hanya desa durian, melainkan kawasan agropolitan yang mampu mengembangkan berbagai komoditas pertanian," ujarnya.

Wawan menilai keberhasilan pengembangan durian tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon, tetapi juga kualitas perawatan. Menurutnya, pohon durian membutuhkan pemeliharaan rutin agar produktivitas dan mutu buah tetap terjaga.

Untuk mendukung upaya tersebut, pemerintah desa bersama Universitas Brawijaya juga menjalankan program pendampingan budidaya, termasuk penerapan teknologi top working serta pengembangan produk olahan berbasis durian sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil panen.

Ketua Taruna Tani Abadi, Hasan Mahfudzi, mengatakan kelompoknya akan menggerakkan masyarakat melalui tiga tahapan, yakni menanam, merawat, dan memanen. Selain memperbanyak Durian Saman, Taruna Tani juga mendorong penanaman komoditas buah lain agar kawasan tersebut memiliki produksi yang berkelanjutan sepanjang tahun.

"Target kami bukan hanya meningkatkan jumlah pohon, tetapi menjadikan Pelangkongan sebagai salah satu sentra pemasok buah. Dengan begitu masyarakat tidak hanya bergantung pada musim panen durian," kata Hasan.

Menurut Hasan, budidaya Durian Saman sebenarnya telah dimulai sejak sekitar 2013 melalui pendampingan sejumlah peneliti. Saat ini jumlah pohonnya diperkirakan mendekati seribu batang, meski yang telah terdata secara resmi masih sekitar 300 pohon.

Kolaborasi antara BRIN, pemerintah desa, Universitas Brawijaya, dan kelompok tani diharapkan mampu memperkuat posisi Durian Saman sebagai varietas unggulan asal Magetan sekaligus membuka peluang pengembangan kawasan agropolitan berbasis hortikultura di lereng Gunung Lawu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....