Panen Jagung di Ponorogo, Hanif Faisol Ajak Petani Wujudkan Swasembada Pangan

  • 04 Jul 2026 14:43 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Ponorogo - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq bersama Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita melakukan panen jagung di area tanam kawasan Perhutani di Kelurahan Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo, Sabtu (4/7/2026). Setidaknya ada 198 hektare area sawah di Kelurahan Ronosentanan yang ditanami jagung.

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita menjelaskan, luas area panen jagung di Ponorogo tahun 2025 mencapai sekitar 39 ribu hektare dengan hasil produksi mencapai 284 ribu ton. Sedangkan area luas panen padi sekitar 74 ribu hektare dengan hasil produksi mencapai 436 ribu ton.

"Berkaca capaian tersebut, Ponorogo menjadi salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur. Dan Indeks ketahanan pangan (IKP) kita mencapai 71,22 poin. Kita bersyukur Ponorogo dianugerahi tanah yang subur, namun yang lebih kami syukuri adalah kami memiliki petani-petani yang hebat, dan tidak lelah berinovasi," katanya.

Sementara itu Wamenko bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq mengajak semua elemen masyarakat terutama petani mewujudkan swasembada pangan. Pemerintah daerah juga diminta mengawal dengan serius program pemerintah pusat.

Menurut Hanif, secara nasional capaian produksi jagung tahun 2025 menunjukkan trend positif. Jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen mencapai 16,16 juta ton dengan harga acuan pembelian (HPP) Rp5.500 per kg.

Sedangkan produksi beras tercatat mencapai lebih 34,69 juta ton dengan kebutuhan rata-rata 30-32 juta ton per tahun. Karenanya pemerintah berkomitmen tidak mengimpor jagung pakan dan beras sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan.

"Di dalam instrumen ketahanan pangan hal yang tidak kalah penting adalah menetapkan neraca komoditas (NK), ini menjadi instrumen kita impor atau tidak. Pemerintah menyampaikan bahwa kita tidak lagi impor beras dan jagung, artinya seluruh rangkaian kegiatan impor wajib disesuaikan. Upaya pemerintah sangat serius untuk membangun ketahanan pada komoditas utama, yaitu padi dan jagung," ujarnya.

"Di Ponorogo saja bisa melakukan hampir tiga kali panen, rata-rata dua kali padi dan satu kali jagung karena luas lahannya 35 ribu hektare, tapi luas produksinya mencapai 74 ribu hektare," tambahnya.

Hanif Faisol mengungkapkan swasembada pangan harus terus diperkuat dengan tata kelola yang baik. Upaya itu, menurutnya harus terus dibangun secara bertahap mulai rantai pasok hingga rantai beku.

Pun ia mengajak keterlibatan generasi muda untuk terjun di dunia pertanian. Hal itu penting untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.

"Penggunaan teknologi diwajibkan disini. Kalau kita masih melakukan cara-cara konvensional, maka nilainya tidak akan efisien. Nah kita memposisikan diri membangun ketahanan pangan, jangan sampai kendor," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....