Pentingnya Pendekatan Multisensori, bagi Anak Disabilitas Intelektual

  • 30 Jun 2026 20:26 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Anak dengan disabilitas intelektual sering kali menghadapi hambatan besar dalam menyerap materi pelajaran jika hanya mengandalkan satu jalur indra. Seperti hanya mendengarkan penjelasan guru atau sekadar membaca tulisan.

Terapis sekaligus Founder Sekolah Anak Autis & Special Needs Dalta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso menjelaskan bahwa keterbatasan dalam pemrosesan kognitif membuat informasi abstrak menjadi sulit dicerna. Menjawab tantangan ini, Arif menekankan pentingnya pemberian input sensori atau pendekatan multisensori yang melibatkan berbagai indra secara bersamaan.

“ Jadi, pendekatan multisensori ini bekerja dengan cara mengintegrasikan berbagai indra. Mulai dari penglihatan, pendengaran, sentuhan, hingga gerakan tubuh saat proses belajar mengajar berlangsung,” papar Arif.

Lebih lanjut, ketika anak distimulasi melalui berbagai jalur indra sekaligus, otak mereka akan terbantu untuk membangun jalur saraf yang lebih kuat.

“Hasilnya, anak-anak berkebutuhan khusus dapat menangkap, memproses, dan mengingat informasi baru. Bahkan kondisi setelah melakukan metode ini jauh lebih baik dibandingkan metode konvensional,”tegas Arif.

Salah satu pilar utama dalam metode ini adalah pemberian input berupa sentuhan dan kinestetik (gerakan). Hal ini karena anak dengan disabilitas intelektual lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat konkret atau nyata.

Selain itu, Arif juga memaparkan bahwa penerapan teknik belajar angka dan huruf menggunakan cetakan timbul seperti dari kertas pasir, menulis di atas nampan berisi tepung, atau membentuk pola dengan playdough bisa dilakukan. Sedangkan untuk pelajaran berhitung, anak-anak diajak menggunakan benda nyata yang bisa dipegang seperti kancing atau balok kayu, bahkan belajar sambil melompat di atas karpet angka.

Selain sentuhan, input visual yang terstruktur juga memegang peranan krusial untuk menjembatani keterbatasan bahasa serta memori jangka pendek anak. Penggunaan media yang kontras seperti flashcards atau video pendek sangat efektif untuk menarik perhatian mereka.

Kemudian pemanfaatan visual schedule atau runtutan gambar bisa dilakukan untuk menunjukkan aktivitas apa saja yang akan dilakukan hari itu. “Tentu visual schedule sangat membantu mengurangi kecemasan mereka terhadap hal yang tidak pasti, sekaligus menerapkan sistem pengodean warna untuk memisahkan konsep dasar,” jelas Arif.

Komponen ketiga yang tidak kalah penting adalah manajemen input auditori (pendengaran) yang diberikan secara sederhana dan terukur. Tujuannya agar anak tidak mengalami kewalahan sensori (sensory overload).

Bahkan guru diimbau untuk memberikan instruksi satu per satu menggunakan kalimat pendek yang jelas tanpa bertele-tele. Mengemas informasi ke dalam bentuk lagu, rima, atau ketukan ritme terbukti membuat materi pelajaran menjadi jauh lebih mudah diingat oleh anak-anak luar biasa ini.

Melalui inovasi pembelajaran yang menyentuh seluruh aspek indra ini, hambatan kognitif anak perlahan dapat diurai secara bertahap. Terakhir, Arif berharap masyarakat dan orang tua semakin sadar bahwa dengan stimulasi sensori yang tepat, anak-anak dengan disabilitas intelektual pun mampu belajar dengan optimal dan bahagia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....