Menghadapi Stimulasi Diri Anak Berkebutuhan Khusus: Hindari Kata Larangan
- 31 Mei 2026 23:39 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang sedang berada dalam fase stimulasi diri intensitas tinggi membutuhkan ketenangan dan strategi intervensi yang tepat. Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh orang tua atau sebagian besar masyarakat adalah mencoba menghentikan kondisi tersebut saat itu juga serta menggunakan suara atau kata-kata larangan yang keras.
Praktisi sekaligus Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need Dalta Ozora Madiun, Arif Budi Santoso menjelaskan kepada RRI Madiun bahwa berdasarkan prinsip behavior therapy (terapi perilaku), membombardir anak yang sedang tantrum atau stimming dengan kata-kata seperti "jangan", "tidak", atau "berhenti" justru akan semakin membuat keadaan tidak kondusif. “Suara bising dari luar hanya akan menambah beban sensorik di kepala anak, meningkatkan kepanikan lebih ketika berada di suatu tempat, dan berpotensi memicu tindakan destruktif atau merusak yang lebih berbahaya, bahkan melukai diri sendiri (self-injury),” ucap Arif
Oleh karen itu, langkah pertama menurut Arif, yang harus diambil adalah melakukan pengamanan lingkungan dan interupsi gerakan secara fisik jika perilaku sudah mengarah pada tindakan destruktif. Ketika anak usia dini mulai memukul pintu atau melempar barang, orang tua harus segera hadir secara fisik untuk memeluk, memegang tangan anak dengan lembut namun tegas, serta memutus pola gerakan repetitif tersebut.
"Interupsi fisik dilakukan bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengamankan anak dan sekelilingnya. Diamkan dan dekap mereka dengan tenang hingga eskalasi emosinya mereda, yang biasanya memakan waktu 15 hingga 20 menit," jelas Arif lebih lanjut.
Berikutnya berupa teknik pengalihan ke aktivitas yang lebih terstruktur dan positif, hal ini menurut Arif juga sangat efektif. “Jika anak menunjukkan kecenderungan stimming berupa lompat-lompat tanpa kendali, energinya dapat disalurkan melalui olahraga terukur seperti bermain trampolin atau lompat jauh di bak pasir,” ungkapnya.
Namun ketika anak gemar memasukkan tangan ke mulut, alihkan dengan aktivitas motorik oral seperti meniup gelembung sabun atau minum menggunakan sedotan. Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan yakni modifikasi lingkungan eksternal juga bahkan menjadi kunci keberhasilan.
Jika stimming meledak di tempat umum akibat faktor kebisingan, orang tua harus tahu diri untuk segera membawa anak keluar ke area yang lebih sepi atau memanfaatkan alat bantu seperti noise canceling headphones. Selain itu, orang tua juga dapat memilih waktu berkunjung ke pusat perbelanjaan pada hari kerja yang cenderung sepi, hal ini sekaligus juga merupakan langkah preventif yang bijaksana.
Terakhir, apabila perilaku stimulasi diri sudah berada pada tahapan agresif yang ekstrem mulai dari merusak fasilitas rumah atau kekuatan fisiknya sudah tidak dapat dikontrol lagi oleh orang tua seiring bertambahnya usianya, maka intervensi profesional medis tidak boleh ditunda. Konsultasi ke psikiater atau dokter spesialis anak diperlukan untuk mendapatkan penanganan farmakologi guna membantu memperpanjang sumbu toleransi amarah anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....