Faktor Pemicu Stimming pada Anak Berkebutuhan Khusus
- 31 Mei 2026 23:25 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Perilaku stimulasi diri pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan cara mereka dalam mengekspresikan emosinya. Namun, terdapat serangkaian faktor pemicu, baik dari stimulasi internal maupun eksternal, yang menggerakkan anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun pada kondisi normal untuk melakukan tindakan repetitif atau berulang tersebut.
Maka dari itu, Founder dari Sekolah Anak Autis & Special Need Dalta Ozora Madiun, Arif Budi Santoso mengidentifikasi apa saja yang menjadi penyebab stimulasi diri ini terjadi, terlebih pada ABK. Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi orang tua dan pendidik agar tidak salah dalam memberikan feedback.
Faktor pemicu pertama berkaitan erat dengan kondisi regulasi emosi anak yang sangat dinamis atau mengalami mood swing. Arif kepada RRI Madiun mengungkapkan bahwa emosi anak berkebutuhan khusus cenderung sangat rapuh dan mudah berubah dalam waktu singkat. “Seorang anak yang awalnya tampak tenang saat menyelesaikan tugas tertulis di kelas. Namun beberapa waktu kemudian dapat berteriak histeris dengan tiba- tiba, hanya karena ada perubahan drastis pada kondisi psikologis internalnya,” ungkap Arif.
Selain itu, faktor ingatan atau memori masa lalu yang kuat juga memegang peranan besar sebagai pemicu internal. ABK sering kali memproses sebuah peristiwa emosional dengan lini masa yang berbeda dari anak tipikal.
Mereka bisa tiba-tiba menangis atau mengamuk di sekolah hanya karena mendadak teringat momen ketika dimarahi orang tuanya beberapa hari yang lalu. Selain itu juga, ketika teringat kabar duka tentang anggota keluarga yang telah berlalu beberapa minggu.
"Ingatan masa lalu itu diputar kembali di kepala mereka saat kondisi ruang sedang hening, sehingga memicu luapan emosi mendadak yang bermanifestasi menjadi gerakan stimulasi diri," Ucap Arif lebih lanjut.
Dari sisi eksternal, faktor lingkungan berupa kondisi sensorik yang berlebihan (overstimulation) menjadi pemicu paling dominan. Anak-anak dengan kondisi hipersensitif sensorik sangat rentan terhadap suara bising di tempat ramai atau paparan cahaya lampu yang terlalu terang dan berputar sehingga ketika ambang batas toleransi sensorik mereka terlampaui, anak akan melakukan stimming sebagai mekanisme pertahanan diri untuk meredam kecemasan.
Kondisi tidak melakukan aktivitas apapun juga menjadi faktor pemicu yang tidak boleh diabaikan. Ketika anak dihadapkan pada situasi harus mengantri lama, seperti saat menunggu giliran terapi atau pemeriksaan dokter, maka rasa bosan akan mulai terjadi. Tanpa adanya kegiatan pengalih yang bermakna, anak secara otomatis akan memproduksi stimulasi mandiri seperti mondar-mandir atau mengetuk-ngetuk meja demi mengisi kekosongan tersebut.
Oleh sebab itu, proses observasi dan asesmen awal yang detail dari orang tua menjadi pondasi penting untuk memetakan setiap faktor pemicu, sebelum menentukan langkah penanganannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....