Membaca Makna Stimulasi Diri pada Anak Berkebutuhan Khusus

  • 31 Mei 2026 23:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Perilaku stimulasi diri atau yang sering dikenal dengan istilah stimming pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) kerap kali disalahpahami sebagai tindakan tanpa tujuan. Padahal, gerakan berulang tersebut merupakan sebuah instrumen komunikasi nonverbal yang krusial bagi mereka.

Dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi di PRO 1 RRI Madiun, Founder dari Sekolah Anak Autis & Special Need Dalta Ozora, Arif Budi Santoso menjelaskan bahwa melalui gerakan fisik, ABK sebenarnya sedang mengekspresikan emosi internalnya, yang tidak mampu mereka sampaikan melalui komunikasi verbal atau lisan.

“Jadi stimulasi diri adalah suatu manifestasi atau cara mandiri dari anak berkebutuhan khusus untuk menyalurkan berbagai macam perasaan. Ketika seorang anak mengalami lonjakan emosi baik itu berupa rasa cemas yang mendalam, rasa senang, kejenuhan, hingga rasa tidak nyaman terhadap sekelilingnya, maka mereka membutuhkan saluran ekspresi,” jelas Arif

Lebih lanjut, bahwa sebagian besar dari mereka belum memiliki kemampuan komunikasi verbal yang matang. Alhasil, ekspresi yang muncul dikonversikan menjadi gerakan tubuh.

Bentuk dari stimming juga sangat variatif, mulai dari gerakan motorik kasar hingga respons vokal. Karakteristik yang paling sering dijumpai di lapangan meliputi gerakan berulang pada anggota tubuh seperti mengepakkan tangan (flapping), menggerakkan kepala, hingga mengeluarkan suara-suara tertentu, tetapi suara yang muncul bukanlah sebuah ucapan yang logis, melainkan produksi vokal repetitif atau berulang yang sekilas mirip dengan fase babbling pada bayi.

Uniknya, satu jenis gerakan yang sama bisa merepresentasikan dua kondisi emosional yang bertolak belakang. Sebagai contoh, seorang anak dengan autisme bisa saja bertepuk tangan secara intens baik saat dirinya merasa sangat gembira maupun ketika berada dalam kondisi stres yang berat.

Tentunya, hal ini membuat karakteristik stimming menjadi sangat personal dan memerlukan kepekaan tinggi dari orang-orang di sekitarnya khususnya orang tua. Hal ini berguna untuk mengidentifikasi makna di balik gerakan tersebut.

Kunci utama untuk membedakan motif di balik stimulasi diri menurut Arif terletak pada kemampuan dalam membaca mimik atau ekspresi wajah anak. Jika gerakan repetitif tersebut dipicu oleh rasa bahagia atau kenyamanan terhadap suatu objek dan individu, gerakan tersebut biasanya akan senantiasa beriringan dengan gurat wajah yang ceria atau tawa lepas. Sebaliknya, ketika gerakan berulang kemudian ekspresi wajah lebih tegang maka pemicunya pada emosi negatif.. Stimming bukanlah sebuah gangguan perilaku yang harus dihakimi atau dihentikan secara paksa agar terlihat tidak berbeda dari normalnya. Gerakan tersebut adalah bahasa tubuh yang jujur, sebuah jembatan komunikasi yang sengaja mereka bangun untuk berinteraksi dan bertahan di tengah lingkungan yang beragam

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....