Konflik atau Persaingan Antar Anak, Kapan harus Mencari Bantuan Profesional?
- 24 Mei 2026 12:23 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Sibling rivalry atau kondisi dimana terjadinya persaingan atau kompetisi antara anak dalam sebuah keluarga merupakan hal yang lumrah. Mulai dari berebut mainan, adu mulut, hingga sikap merajuk sebagai bentuk ekspresi emosi anak yang masih wajar dalam proses tumbuh kembangnya.
Namun, Arif Budi Santoso, Founder dari Sekolah Anak Autis & Special Needs Dalta Ozora Madiun, dan juga Terapis ini mengungkapkan, bahwa situasi sibling rivalry dapat berubah menjadi alarm bahaya yang tidak dapat diabaikan oleh orang. Ketika konflik persaingan atau kompetisi antara saudara kandung berubah menjadi kondisi yang destruktif seperti menyakiti mental dan fisik atau juga merusak sesuatu, terlebih dalam keluarga yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Disini, orang tua harus memiliki kepekaan untuk membedakan mana konflik persaudaraan yang biasa dan mana yang sudah memerlukan intervensi dari pihak profesional.
“Salah satu sinyal awal yang patut diwaspadai adalah perubahan perilaku yang lebih ekstrem pada anak yang neurotipikal (normal), seperti mendadak menarik diri dari lingkungan. Selain itu, sering mencari kesalahan saudaranya, bahkan hingga melakukan aksi mogok sekolah secara sengaja akibat merasa diabaikan atau memendam kecemburuan yang mendalam,” jelas Arif kepada RRI Madiun, kemarin.
Jika anak merajuk sesaat, tentunya masih wajar. Namun apabila emosi negatif yang berubah menjadi perilaku menentang yang ekstrem, menolak belajar, atau bahkan mulai mengisolasi diri secara sosial, orang tua tidak boleh menganggapnya sebagai angin lalu dan ketika berada di titik ini, maka waktu untuk berbicara lebih dalam secara empat mata biasanya sudah tidak lagi efektif.
Arif juga menegaskan indikator utama yang menjadi penentu kapan orang tua harus membawa anak ke profesional, seperti psikolog anak atau konselor keluarga yakni ketika munculnya agresi fisik yang intens dan perilaku destruktif. Kondisi tersebut meliputi ketika anak mulai membanting dan merusak barang-barang pribadi saudaranya dengan sengaja.
Kemudian memukul, atau melakukan kekerasan fisik lainnya saat emosinya memuncak (tantrum), sehingga kondisi tersebut dapat membahayakan dan berada di luar kendali pengasuhan secara mandiri. Lebih lanjut, Arif juga memaparkan selain perilaku yang lebih agresif, sikap berlawanan seperti cenderung apatis, cuek, dan sama sekali tidak peduli terhadap keberadaan saudara kandungnya juga menjadi sinyal bahaya yang sering kali luput dari perhatian orang tua.
"Sikap dingin dan hilangnya kepekaan emosional ini mencerminkan pudarnya ikatan persaudaraan (bonding)," tambahnya.
Kemudian apabila kondisi tersebut dibiarkan tanpa penanganan ahli sejak dini, hubungan antar saudara ini berisiko mengalami keretakan permanen. Terlebih akan semakin parah ketika dapat menjadi pemicu trauma psikologis yang terbawa hingga mereka dewasa.
Perlu digaribawahi bahwa dengan membawa anak ke profesional tentu bukan menjadi sebuah tanda kegagalan orang tua dalam hal pola asuh (parenting). Hal ini justru menjadi langkah mitigasi yang bijaksana demi menyelamatkan kesehatan mental seluruh anggota keluarga termasuk orang tua juga.
Intervensi dari psikolog akan membantu mengurai benang kusut emosi anak yang terpendam, memberikan mereka wadah yang aman untuk mengekspresikan diri. Hal tersebut juga sekaligus membekali orang tua dalam menentukan untuk selanjutnya menyusun dan menerapkan strategi pengasuhan inklusif yang lebih adil dan dapat meminimalisir terjadi kondisi yang cenderung negatif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....