Menghadapi Sibling Rivalry dengan Anak Berkebutuhan Khusus
- 24 Mei 2026 12:21 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kompetisi atau persaingan antar saudara kandung atau yang dikenal dengan istilah sibling rivalry merupakan hal yang wajar terjadi dalam sebuah keluarga. Namun tantangan dalam pola asuhnya akan menjadi jauh lebih kompleks, ketika salah satu anak didiagnosis mengalami gangguan perkembangan atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), sementara saudara kandungnya bertumbuh secara neurotipikal (normal).
Kepada RRI Madiun, Pakar tumbuh kembang anak, Arif Budhi Santoso menjelaskan bahwa pemicu utama keretakan hubungan persaudaraan ini sering kali berakar dari kecemburuan sosial dalam keluarga. Anak berkebutuhan khusus secara alamiah menuntut porsi perhatian, energi, dan waktu yang jauh lebih ekstra dari orang tua, mulai dari jadwal terapi perilaku, pengobatan medis, hingga pemenuhan aktivitas keseharian yang masih harus dibantu.
"Anak-anak yang neurotipikal atau normal akhirnya secara psikologis merasa terbebani. Di satu sisi mereka juga merindukan perhatian penuh, di sisi lain mereka merasa harus menahan diri dan dipaksa dewasa agar tidak merepotkan orang tua yang sudah lelah mengurus saudaranya, kondisi ini kerap kali membuat anak neurotipikal merasa dikesampingkan atau dinomorduakan,” Ungkap Arif dalam Program Ruang Disabilitas dan Inklusi PRO 1 RRI Madiun, kemarin.
Alhasil perlu perubahan dari pola pikir orang tua terhadap konsep keadilan, guna mengurai emosi anak yang terjadi. Arif, menekankan bahwa adil dalam keluarga dengan anak berkebutuhan khusus tidak bisa dipahami sebagai membagi sama rata segala sesuatunya, melainkan memberikan sesuatu sesuai dengan proporsi kebutuhan masing-masing anak.
“Langkah pertama yang sangat penting untuk dilakukan orang tua adalah membangun komunikasi empat mata secara berkala. Penjelasan secara lisan dan verbal yang jujur mengenai kondisi saudaranya perlu disampaikan sejak dini tanpa harus mendiskriminasi salah satu pihak,” jelas Arif.
Ia juga mencontohkan terkait pemberian pemahaman mengapa sang kakak yang kondisinya merupakan anak berkebutuhan khusus harus didampingi belajar secara intensif, sementara sang adik bisa belajar mandiri. Lebih lanjut, strategi yang juga perlu dilakukan oleh orang tua adalah terkait alokasi waktu.
“Selain komunikasi verbal, strategi lain yang tidak kalah krusial adalah menjadwalkan alokasi waktu khusus yang eksklusif bagi anak neurotipikal. Jadi, kegiatan sederhana seperti mengajak mereka jalan-jalan ke taman bermain atau makan bersama di gerai cepat saji tanpa kehadiran saudaranya yang ABK, karena hal ini dapat memberikan validasi emosional bahwa mereka tetap dicintai dan diperhatikan seutuhnya oleh orang tua,” tegas Arif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....