Mengapa 3-6 Bulan jadi Fase Terberat Pasca Bencana?
- 14 Apr 2026 11:19 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Masa paling berat bagi korban bencana justru terjadi setelah fase tanggap darurat berakhir. Hal ini disampaikan oleh Aria Kusuma Aji, relawan penanggulangan bencana sekaligus perawat RSUD dr Soedono Madiun dalam dialog bersama Pro 2 RRI Madiun.
Menurutnya, periode 3-6 bulan pasca bencana menjadi titik krusial dalam pemulihan. Pada fase ini, bantuan mulai berkurang dan masyarakat dituntut untuk mandiri.
Aria menjelaskan bahwa berkurangnya kehadiran relawan dan bantuan dapat memengaruhi kondisi psikologis korban. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada bantuan harus mulai beradaptasi dengan kondisi baru.
Jika tidak siap, hal ini dapat menimbulkan tekanan mental yang cukup berat. Oleh karena itu, fase ini perlu mendapat perhatian khusus.
“Fase yang paling berat itu justru tiga sampai enam bulan pasca bencana, karena saat itu bantuan sudah mulai berkurang dan masyarakat harus mulai mandiri. Kalau dari awal tidak dibiasakan, mereka akan cenderung bergantung,” ujarnya, kemarin.
Ia menilai bahwa ketergantungan menjadi salah satu masalah utama yang muncul pada fase ini. Menurut Aria, pola pikir menunggu bantuan dapat terbentuk jika korban terlalu dimanjakan selama masa pengungsian.
Kondisi ini justru berisiko memperburuk situasi dalam jangka panjang. Ia mencontohkan praktik yang kurang tepat seperti semua kebutuhan pengungsi dipenuhi tanpa melibatkan mereka. Hal tersebut dapat menghambat kemandirian masyarakat.
“Saya kurang setuju jika pengungsi terlalu dimanjakan, misalnya semua disiapkan tanpa melibatkan mereka. Dampaknya, setelah beberapa bulan mereka bisa mengalami kebingungan karena sudah terbiasa bergantung dan tidak mandiri,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan seperti ini perlu dihindari dalam penanganan bencana. Sebagai solusi, Aria menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam berbagai aktivitas.
Kegiatan sederhana seperti memasak bersama dapat menjadi bentuk dukungan psikososial. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, aktivitas ini juga memberikan efek positif bagi kondisi mental korban.
Mereka menjadi lebih aktif dan tidak terjebak dalam pikiran negatif. Menurutnya, keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari dapat menjadi bentuk pengalihan yang efektif.
Hal ini membantu korban untuk tetap produktif dan menjaga kestabilan emosi. Dibandingkan hanya berdiam diri di pengungsian, aktivitas bersama dapat memperkuat rasa kebersamaan. Dengan demikian, proses pemulihan dapat berjalan lebih optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....