Pentingnya Keseimbangan Sumber Energi dalam Transisi Kendaraan Listrik
- 26 Feb 2026 23:19 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Peralihan penggunaan energi listrik pada sektor transportasi dinilai menjadi langkah strategis dalam menekan emisi karbon. Hal ini disampaikan oleh Dr. W. Linda Yuhanna, M.Si, dosen Universitas PGRI Madiun (UNIPMA), saat dialog Jaga Malam bersama Pro 2 RRI Madiun .
Menurutnya, penggunaan motor listrik, mobil listrik, hingga kompor listrik dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dr. Linda menjelaskan bahwa energi listrik memiliki potensi besar dalam menekan produksi karbon dioksida. “Penggunaan listrik baik itu motor listrik, mobil listrik, atau mungkin kompor listrik, itu arahnya mengurangi penggunaan bahan bakar berbahan fosil sehingga tidak menghasilkan karbon dioksida yang berlebihan.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa elektrifikasi menjadi salah satu solusi dalam menghadapi krisis iklim.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sumber energi listrik juga perlu diperhatikan. Jika listrik masih dihasilkan dari pembangkit berbasis fosil seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), maka emisi karbon tetap menjadi persoalan. Kondisi ini dapat mengurangi efektivitas penggunaan kendaraan listrik dalam menekan polusi udara.
“Namun yang harus diwaspadai ketika listrik menggunakan bahan baku misalnya PLTU ataupun zat-zat yang memicu menghasilkan karbon dari sumber listriknya, ini menjadi masalah tersendiri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa transisi energi harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada penggunaan, tetapi juga pada proses produksi listriknya.
Menurut Dr. Linda, keseimbangan antara produksi dan pemanfaatan listrik sangat penting. Energi listrik yang bersumber dari energi terbarukan seperti surya atau angin akan memberikan dampak lebih signifikan terhadap penurunan emisi karbon. Dengan demikian, elektrifikasi transportasi dapat berjalan seiring dengan upaya dekarbonisasi sektor energi.
Ia berharap listrik dapat menjadi penyuplai utama transportasi, khususnya bagi Generasi Z yang dikenal adaptif terhadap teknologi baru.
“Jadi harus dibuat seimbang juga bagaimana listrik itu dihasilkan kemudian listrik itu bisa menjadi supply utama transportasi Gen Z, sehingga bisa mengurangi emisi karbon dari bidang transportasi,” tuturnya. Melalui langkah tersebut, generasi muda diharapkan menjadi motor penggerak transisi energi yang lebih ramah lingkungan.