Gen Z, Media Sosial, dan Tantangan Baru Beragama di Era Serba Cepat
- 19 Feb 2026 15:37 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun: Perkembangan media sosial yang begitu pesat membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara Generasi Z menjalani kehidupan beragama. Di era digital yang serba cepat dan terbuka, informasi keagamaan dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak sederhana.
Yafet Ari Wijaya, pembina kerohanian Kristen, melihat bahwa Gen Z merupakan generasi yang dinamis dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Berbeda dengan generasi 90-an atau awal 2000-an yang cenderung menjadi pendengar dan mengikuti arahan, Gen Z justru lebih kritis dan berani bertanya.
“Anak-anak sekarang tidak hanya menerima. Mereka bertanya, berdiskusi, bahkan menguji kembali apa yang mereka dengar. Dan menurut saya itu bagus,” ujarnya saat menjadi pengisi di acara SPADA Pro 2 RRI Madiun.
Ia menilai, sikap kritis ini membuka ruang diskusi yang lebih luas dan sehat. Dialog dua arah antara pembina rohani dan generasi muda menjadi lebih hidup. Namun, tantangannya adalah bagaimana para tokoh agama mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan bahasa yang relevan dan mudah dipahami.
Yafet menegaskan, pembina kerohanian tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama yang satu arah. Mereka dituntut untuk terbuka, adaptif, dan mampu menjelaskan ajaran agama dengan konteks kekinian tanpa mengubah esensi kebenaran itu sendiri.
Di sisi lain, derasnya arus informasi di media sosial juga memunculkan risiko. Banyak konten agama disajikan dalam format singkat seperti reels atau video satu menit yang kerap kali tidak menyertakan konteks utuh.
“Jangan hanya menikmati potongan-potongan informasi tanpa mencerna sejarah dan maknanya. Harus ada filter, Generasi sekarang ini harus jauh lebih bijak. Artinya belajarnya juga harus lebih dalam. Jadi enggak Cuma istilahnya menikmati 1 menit 2 menit reels tanpa mereka mencerna sejarah, tanpa mereka memahami konteks agama ini atau iman kepercayaan kita. Jadi jangan hanya itu dikonsumsi gitu aja, harus difilter dengan baik,” tegasnya.
Menurutnya, kebijaksanaan menjadi kunci utama bagi Gen Z dalam mengonsumsi informasi keagamaan. Dunia digital memang memberi akses luas, tetapi tanpa penyaringan yang baik, pemahaman bisa melenceng dari konteks sebenarnya.
Karena itu, Yafet mengajak generasi muda untuk tetap kritis, namun juga mau belajar lebih dalam dan tidak hanya puas pada pemahaman instan.