Penurunan Cadangan Air Bumi Dorong Pentingnya Green Investment
- 31 Jan 2026 12:25 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun - Penelitian dari salah satu universitas ternama di Korea mengungkapkan bahwa Bumi mengalami penurunan cadangan air hingga triliunan ton. Kondisi ini mematahkan anggapan bahwa air merupakan sumber daya yang tidak terbatas, sekaligus menjadi peringatan serius bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Penurunan cadangan air tersebut berdampak langsung pada ketidakpastian musim, pola hujan yang sulit diprediksi, serta menurunnya kemampuan tanah dalam menyimpan air. Jika tidak ditangani dengan serius, kondisi ini berpotensi memengaruhi sektor ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Veronika Agustini Srimulyani, SE, M.Si., akademisi UKWMS Kota Madiun yang menjadi narasumber dalam siaran RRI Madiun, menegaskan bahwa salah satu solusi strategis yang perlu didorong adalah green investment atau investasi hijau. “Green investment adalah investasi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola. Modal hijau seharusnya digunakan untuk usaha yang tidak merusak lingkungan, bahkan jika memungkinkan justru memperbaikinya,” ujar Dr. Veronika.
Ia menjelaskan, modal hijau (green capital) dapat berbentuk dana maupun teknologi ramah lingkungan, seperti inovasi industri rendah emisi karbon, reboisasi hutan, hingga pembersihan laut yang tercemar. “Modal hijau bisa berasal dari pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Selama modal tersebut dialokasikan untuk aktivitas yang mendukung kelestarian lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik, itulah yang disebut investasi hijau,” jelasnya.
Menurut Dr. Veronika, tantangan utama pengembangan green investment di Indonesia adalah mindset investor yang masih berfokus pada keuntungan jangka pendek. “Dari riset yang kami lakukan, banyak investor masih menempatkan keuntungan finansial sebagai motivasi utama, sementara aspek lingkungan belum menjadi pertimbangan utama. Padahal, investasi hijau adalah investasi jangka panjang yang memberi keuntungan reputasi dan keberlanjutan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah melalui regulasi dan insentif bagi perusahaan yang taat terhadap prinsip keberlanjutan.“Pemerintah perlu hadir melalui aturan dan insentif agar investor tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat, tetapi juga dampaknya bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Selain sektor formal, Dr. Veronika menilai peran masyarakat dan generasi muda juga sangat krusial, mulai dari perubahan pola konsumsi, pengurangan penggunaan plastik, hingga dukungan terhadap produk ramah lingkungan. “Yang hidup bukan hanya generasi sekarang, tetapi juga generasi ke depan. Karena itu, sumber daya alam harus digunakan secara bijak agar tetap tersedia di masa mendatang,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....