Dua WN Denmark Keturunan Aceh Hebohkan Pelayaran Sabang
- 03 Agt 2025 15:23 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Lhokseumawe: Suasana dalam Kabin Kapal Cepat penyeberangan Pulau Sabang, Sabtu (2/8/2025) mendadak semarak dan meriah.
Pelayaran pada hari itu, dibuat takjub oleh aksi dua Warga Negara (WN) Denmark. Mereka ternyata fasih menuturkan bahasa Aceh.
Menurut sejumlah penumpang, sebagaimana dirilis situs serambinews.com, Dua WN Denmark itu merupakan pemuda bernama Amar dan Nizam. Ke duanya berperawakan kulit putih, berambut cokelat kehitaman dan tampak percaya diri menuturkan bahasa Aceh.
Disebutkan pula, Amar dan Nizam menjadi pusat perhatian penumpang karena mereka mengaku warga Denmark keturunan Aceh.
"Kamoe Awak Aceh", pekik Amar, WN Denmark disambut tawa para penumpang. Ungkapan itu juga mengundang sorakan riuh penumpang kapal cepat tujuan Sabang ini.
"Hanjeut bahasa Indo, bahasa Aceh mantong", timpal Amar kembali dengan logat Aceh yang kental ketika disapa balik oleh penumpang.
Ungkapannya pun kemudian mengundang tawa dan rasa kagum para penumpang lainnya yang sebagian besar warga Aceh.
Ia mengaku lahir dan besar di Denmark. "Nan loen Amar, loen awak Aceh, duek di Denmark", ucapnya dengan lancar.
Tak kalah mengejutkan dengan Nizam. Ia mengenakan kemeja putih, kacamata bulat, serta topi dan rambut yang di cat pirang. Ia mengaku tinggal bersama keluarga di Denmark. "Nama lon Nizam, kuduk ideh, tinggai di Denmark", katanya santai.
Yang membuat heboh lagi, ketika ke duanya diminta penumpang berbicara dalam bahasa Denmark. Mereka melakukannya dengan lancar.
Dan yang lebih mencengangkan, meski fasih dalam bahasa Aceh dan Denmark, Amar dan Nizam mengaku kurang lancar berbahasa Indonesia. Bahkan tiga teman bule mereka yang juga ikut liburan ke Sabang, juga menyahuti "Bereh Aceh"! dengan logat yang lucu dan kian menjadikan pelayaran pada hari itu terasa makin seru dan mengasyikkan.
Menurut informasi lain dari Teuku Salfiyadi, yang satu kapal dengan mereka, Amar dan Nizam datang bersama orang tua mereka yang berasal dari Aceh Utara. "Orang tua asli Aceh Utara", ungkapnya.
Ayah Amar diketahui bekerja sebagai sopir di Denmark. Sementara Ayah Nizam bekerja di sebuah perusahaan swasta.
Mereka pulang kampung sambil membawa anak-anak dan teman dari Denmark untuk berlibur di Sabang selama tiga hari, sebelum kembali ke negeri Skandinavia tersebut.
Di tengah hiruk pikuk perjalan laut, percakapan mereka dalam bahasa Aceh menjadi hiburan tersendiri bagi penumpang lain. Mungkin saja hal ini, bisa menjadi bukti bahwa identitas dan budaya Aceh tetap hidup diperantauan, bahkan hingga lintas generasi dan benua.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....