Refleksi HUT ke-81 TNI di tengah Polarisasi Geopolitik Global

  • 06 Okt 2026 09:34 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Peringatan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Oktober 2026 menjadi momentum refleksi yang sangat krusial.

Mengusung tema resmi “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, upacara tahun ini dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Mabes TNI Cilangkap.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini tidak sekadar menjadi ajang pamer alutsista, melainkan sebuah ruang kontemplasi mendalam mengenai bagaimana postur pertahanan kita merespons dinamika dunia.

Saat ini,Indonesia berada di tengah pusaran polarisasi geopolitik global yang kian memanas, mulai dari ketegangan di Laut China Selatan hingga pergeseran peta kekuatan ekonomi-politik dunia.

Menghadapi lanskap keamanan yang tidak menentu, TNI dituntut untuk terus bertransformasi menjadi kekuatan militer yang modern, adaptif, namun tetap mengakar kuat pada jati dirinya sebagai tentara rakyat.

Menakar Ancaman Hibrida dan Keamanan Maritim

Polarisasi global tidak lagi hanya memicu konflik konvensional, melainkan melahirkan ancaman hibrida yang mengaburkan batas antara perang dan damai.

Di era digital, ruang siber berubah menjadi medan tempur baru. TNI harus memperkuat satuan sibernya untuk menangkal spionase asing, peretasan infrastruktur kritis, dan disinformasi terstruktur yang dapat memecah belah bangsa.

Sebagai negara kepulauan, wilayah laut Indonesia kerap menjadi titik gesek kepentingan kekuatan besar. Langkah strategis seperti peresmian KRI Sriwijaya-100 baru-baru ini menunjukkan bahwa modernisasi alutsista maritim adalah harga mati untuk menjaga kedaulatan di zona ekonomi eksklusif (ZEE) kita.

Profesionalisme Militer dan Batas Ruang Sipil

Transformasi TNI menuju kekuatan modern memicu diskusi penting mengenai batas-batas struktural organisasi militer di dalam iklim demokrasi.

Pengamat militer mengingatkan pentingnya menjaga TNI agar tetap fokus pada fungsi pertahanan negara, menghadapi ancaman perbatasan, serta mempercepat modernisasi alutsista.

Di tengah dinamika internal, penguatan sistem pertahanan harus dibarengi dengan kejelasan regulasi penempatan perwira aktif agar tidak mengaburkan peran institusi sipil, sehingga profesionalisme militer tetap terjaga sesuai amanat konstitusi.

TNI Kuat Bersama Rakyat

Sejarah membuktikan bahwa kekuatan terbesar pertahanan Indonesia tidak hanya terletak pada kecanggihan senjata, melainkan pada kemanunggalan militer dan rakyat.

Keputusan Mabes TNI untuk menggelar upacara secara lebih sederhana tahun ini demi memfokuskan pengerahan personel pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta operasi SAR adalah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap rakyat diletakkan di atas seremonial.

Dalam menghadapi polarisasi global, ketahanan nasional yang paling kokoh dibangun dari kebersamaan. Ketika masyarakat memiliki rasa percaya yang tinggi terhadap militernya, tidak akan ada celah bagi kekuatan asing untuk mengintervensi atau memecah belah kedaulatan NKRI.

Tantangan global saat ini menuntut tentara yang tangguh dalam penguasaan teknologi, taktis di medan tempur, namun tetap humanis di tengah masyarakat. Di bawah kepemimpinan nasional yang baru, komitmen untuk memperkuat postur pertahanan tidak boleh lepas dari akar sejarahnya.

Dengan menjaga profesionalisme, mempercepat modernisasi alutsista secara mandiri, dan merawat kedekatan bersama rakyat, TNI akan terus tegak berdiri sebagai perisai utama yang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah badai geopolitik dunia.

(Penulis: Fohan Muzakir, M.Sos

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH).

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....