Refleksi HUT RI, Jangan Biarkan Sila Kelima Jadi Yatim di Negeri Merdeka
- 17 Agt 2026 12:04 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Koordinator MAARIF Network, Iqbal Suliansyah, kembali menyuarakan pentingnya membumikan pemikiran kemanusiaan Guru Bangsa almarhum Prof. Dr. K.H. Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii). Fokus utamanya tertuju pada kritik legendaris Buya mengenai Sila Kelima Pancasila yang dinilai masih bernasib seperti "anak yatim piatu" akibat ketimpangan sosial di Indonesia.
Melalui jaringan anak muda ideologis yang tergabung dalam MAARIF Network, isu keadilan sosial ini kembali diangkat ke ruang publik agar tidak sekadar menjadi hafalan elite politik.
Metafora "Yatim Piatu" dan Ketimpangan BangsaSemasa hidupnya, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut berulang kali menegaskan bahwa Sila Kelima, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia", merupakan sila yang paling terlantar sejak awal kemerdekaan.
Menurut Iqbal Suliansyah, analogi "yatim piatu" yang digaungkan Buya Syafii menggambarkan realitas pahit di mana banyak pihak berebut mengklaim kesuksesan Pancasila, namun minimnya pemimpin atau kebijakan yang sungguh-sungguh secara konsisten "menyantuni" rakyat miskin dan memangkas jurang pemisah ekonomi.
Pancasila dituding masih menggantung tinggi di atas awan, sementara segelintir orang kaya menguasai mayoritas aset negara.Sila Kelima Sebagai Benteng RadikalismeMAARIF Network menilai refleksi ini sangat mendesak demi menjaga stabilitas nasional dan masa depan generasi muda.
Dalam pandangan Buya Syafii yang diteruskan oleh anak-anak ideologis ya diantaranya MAARIF Networ berharap terwujudnya keadilan sosial yang merata sesungguhnya merupakan resep paling jitu untuk menangkal radikalisme dan doktrin hitam-putih di kalangan remaja. Ketimpangan sosial yang dibiarkan rentan memicu kecemburuan sosial yang mudah dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk merusak persatuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....